16 Sep 2013

Sejarah Pesawat Garuda Indonesia

Imange/Garuda Indonesia/Foto: wisataindonesia.com
Maskapai penerbangan nasional Indonesia baru-baru ini diberitakan mencetak prestasi dalam lingkup Asia dan antarbenua. Garuda dinobatkan menjadi maskapai penerbangan terbaik dalam Passengers Choice Awards 2013 untuk kategori "Best in Region: Asia and Australasia".

Namun, tahukah Anda dulunya Garuda hanya dimulai dengan beroperasinya satu unit pesawat saja? 

Penerbangan komersial di republik Indonesia mulai dirintis di tahun 1949 dengan penerbangan dari kota Kalkuta ke Yangoon, pesawat tersebut adalah Doglas DC-3 Dakota RI 001 yang dinamai Seulawah (Gunung Emas). Lalu menyusul ada PBY Catalina.

Nama Garuda sendiri diberikan oleh presiden Soekarno yang diambil dari sajak penyair terkenal di masa itu, Noto Soeroto. Garuda adalah sosok burung raksasa dalam mitologi yang menjadi kendaraan Dewa Wisnu.

Pada dekade 1950-an, Garuda Indonesia memulai layanan penerbangan penumpang ke Bali dengan pesawat Douglas DC-3 Dakota.

GI menjadi maskapai penerbangan resmi dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung Jabar pada tahun 1955. GI menerbangkan para delegasi dan utusan 29 negara undangan termasuk para kepala negaranya.

Dakota RI-001 Seulawah, Pesawat angkut pertama RI
Penerbangan haji pertama dilakukan Garuda Indonesia ke Saudi Arabia dengan menggunakan pesawat tipe Convair 340.

Pada tahun 1960-an, GI menjadi maskapai penerbangan pertama di Asia Tenggara yang menawarkan layanan jet antarbenua dengan menggunakan pesawat Convair 990A yang paling canggih pada masanya.

Di dekade 1970-an, GI secara resmi menjadi maskapai penerbangan yang menggunakan armada pesawat bermesin jet di tahun 1977. Armada GI terdiri dari Fokker F-28 Fellowship twinjet, Douglas DC-8, McDonnel Douglas DC-9, dan Douglas DC-10 yang masih baru saat itu.

Pada dekade 1980-an, GI merupakan maskapai penerbangan pertama yang mengoperasikan Airbus A300B4 FFCC (Forward facing Crew Cockpit), pesawat tercanggih kokpit kaca yang digunakan di semua pesawat modern saat ini.

Pada tahun 1994, Garuda Indonesia memperkuat armadanya dengan pesawat berbadan paling lebar pada era 90-an, yaitu Boeing 747-400. Sebagai tambahan, barisan armada Garuda Indonesia juga dilengkapi dengan Boeing 737 seri 300, 400 dan 500.

Memasuki dekade 2000-an, armada GI mencakup Boeing seri 737, yaitu Boeing 737-800 Next Generation, Airbus A330 Series, dan mulai mengoperasikan pesawat pertama Boeing 777-300ER pertama (Extended Range) di tahun 2012.

Di tahun 2005, GI meraih 3 bintang dalam kriteria Skytrax.

GI mulai memasuki tahap pertumbuhan setelah berjuang selama beberapa waktu dalam fase turn-around.

Di tahun 2011, manajemen GI ingin memperbaiki layanan yang diberikan kepada penumpang dengan meluncurkan kampanye "The Garuda Experience". Terpacu untuk meraih bintang 4 dalam waktu dekat, GI pun terus menyempurnakan layanannya dengan memperbarui seragam awak kabinnya dengan tujuan juga mendukung dunia pariwisata Indonesia yang menjadi sumber pemasukan devisa negara. 

Dalam proses desain, dilibatkan perancang busana Obin yang ikut merancang pola batik seragam awak kabin wanita dan Ted Sulisto untuk awak kabin pria, sementara Irma Hardisurya bertanggung jawab untuk kombinasi warnanya. Untuk aspek aplikasi seragam, Dianti seorang mantan pramugari GI memberikan saran dan masukannya agar seragam tidak hanya modis dan elegan tetapi juga nyaman dan fungsional dan tidak membatasi gerakan awak kabin yang harus tetap lincah di pesawat.

Pada tahun 2012, Garuda Indonesia menyambut armada baru Bombardier CRJ1000 NextGen.

Transformasi bisnis yang tengah dilaksanakan di GI melalui program "Quantum leap 2011-2015" ini tampaknya bukan hanya slogan semata dan peningkatan layanan terus dilakukan.

Dengan memenangkan penghargaan maskapai penerbangan terbaik dalam APEX Passengers Choice Awards 2013 untuk kategori "Best in Region: Asia and Australasia", GI berhasil menyingkirkan sejumlah maskapai penerbangan bergengsi Asia seperti Singapore Airlines, Qantas Airways, Cathay Pacific Airways, Air New Zealand, dan Pakistan International Airlines.Tak hanya itu, GI juga dianugerahi Top 5 Best Overall Passenger Experience, bersama dengan Emirates, Etihad Airways, Virgin America, dan Virgin Atlantic, dan Top 5 Best Ground Experience dengan Delta Airlines, El Al Israel Airlines, Avianca, dan Virgin America. 

Garuda Indonesia juga masuk dalam Top 5 Best Inflight Publication together bersama dengan Avianca, Gulf Air, Ethiopian Airlines, dan Taca International Airlines. 

Sejarah Dakota RI-001 Seulawah

Dakota RI-001 Seulawah adalah pesawat angkut pertama milik Republik Indonesia yang dibeli dari uang sumbangan rakyat Aceh. Pesawat Dakota RI-001 Seulawah ini adalah cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama, Indonesian Airways. Pesawat ini sangat besar jasanya dalam perjuangan awal pembentukan negara Indonesia.


Pesawat Dakota DC-3 Seulawah ini memiliki panjang badan 19,66 meter dan rentang sayap 28.96 meter, ditenagai dua mesin Pratt & Whitney berbobot 8.030 kg serta mampu terbang dengan kecepatan maksimum 346 km/jam.


Dakota RI-001 Seulawah
KSAU Komodor Udara Suryadarma memprakarsai pembelian pesawat angkut. Biro Rencana dan Propaganda TNI-AU yang dipimpin oleh OU II Wiweko Supono dan dibantu oleh OMU II Nurtanio Pringgoadisuryo dipercaya sebagai pelaksana ide tersebut.

Biro tersebut kemudian menyiapkan sekira 25 model pesawat Dakota. Kemudian, Kepala Biro Propaganda TNI AU, OMU I J. Salatun ditugaskan mengikuti Presiden Soekarno ke Sumatra dalam rangka mencari dana.

Pada tanggal 16 Juni 1948 di Hotel Kutaraja, Presiden Soekarno berhasil membangkitkan patriotisme rakyat Aceh. Melalui sebuah kepanitiaan yang diketuai Djuned Yusuf dan Said Muhammad Alhabsji, berhasil dikumpulkan sumbangan dari rakyat Aceh setara dengan 20 kg emas.

Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli sebuah pesawat Dakota dan menjadi pesawat angkut pertama yang dimiliki bangsa Indonesia. Pesawat Dakota sumbangan dari rakyat Aceh itu kemudian diberi nama Dakota RI-001 Seulawah. Seulawah sendiri berarti "Gunung Emas".

Kehadiran Dakota RI-001 Seulawah mendorong dibukanya jalur penerbangan Jawa-Sumatra, bahkan hingga ke luar negeri. Pada bulan November 1948, Wakil Presiden Mohammad Hatta mengadakan perjalanan keliling Sumatra dengan rute Maguwo-Jambi-Payakumbuh-Kutaraja-Payakumbuh-Maguwo.

Di Kutaraja, pesawat tersebut digunakan joy flight bagi para pemuka rakyat Aceh dan penyebaran pamflet. Pada tanggal 4 Desember 1948 pesawat digunakan untuk mengangkut kadet ALRI dari Payakumbuh ke Kutaraja, serta untuk pemotretan udara di atas Gunung Merapi.


Pada awal Desember 1948 pesawat Dakota RI-001 Seulawah bertolak dari Lanud Maguwo-Kutaraja dan pada tanggal 6 Desember 1948 bertolak menuju Kalkuta, India. Pesawat diawaki Kapten Pilot J. Maupin, Kopilot OU III Sutardjo Sigit, juru radio Adisumarmo, dan juru mesin Caesselberry.

Perjalanan ke Kalkuta adalah untuk melakukan perawatan berkala. Ketika terjadi Agresi Militer Belanda II, Dakota RI-001 Seulawah tidak bisa kembali ke tanah air. Atas prakarsa Wiweko Supono, dengan modal Dakota RI-001 Seulawah itulah, maka didirikanlah perusahaan penerbangan niaga pertama, Indonesian Airways, dengan kantor di Birma (kini Myanmar).

Monumen Pesawat Seulawah

Seiring dengan perkembangan teknologi, khususnya di bidang kedirgantaraan, beberapa jenis pesawat terbang generasi tua pun dinyatakan berakhir masa operasinya. Salah satunya adalah jenis Dakota.

Namun, karena jasanya yang dinilai besar bagi cikal bakal berdirinya sebuah maskapai penerbangan komersial di tanah air, TNI AU memprakarsai berdirinya sebuah monumen perjuangan pesawat Dakota RI-001 Seulawah di Banda Aceh.
Monumen Indonesia Airways, di Blang Padang Banda Aceh
Pada tanggal 30 Juli 1984, Panglima ABRI Jenderal L.B. Moerdani pun meresmikan monumen yang terletak di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh.


Monumen ini menjadi lambang bahwa sumbangan rakyat Aceh sangatlah besar bagi perjuangan Republik Indonesia di awal berdirinya. (Berbagai sumber/MD)

Lorem ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.


EmoticonEmoticon