1 Okt 2013

8 Juta Anak Indonesia Bertinggi Badan di bawah Standar Internasional

Newsdesa.Com - SEBANYAK 5 juta anak di seluruh dunia di bawah umur 5 tahun memiliki tinggi badan di bawah standar internasional. Sekitar 8 juta diantaranya dialami oleh anak-anak Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari persoalan kurangnya asupan gizi.


Tingkat prevalensi anak dibawah umur 5 tahun dengan tinggi badan dibawah standar internasional, di Indonesia mencapai 36 persen | lensaindonesia.com
"Mengapa kita harus memberikan intervensi gizi bagi pembangunan suatu negara? Kalau wanita dewasa diberi asupan gizi yang cukup, maka anak yang dilahirkan nanti akan sehat, artinya lahir dengan berat badan lebih dari 2500 gram," kata Deputi Bidang SDM dan Kebudayaan Bappenas, Nina Sardju, di Jakarta, Selasa (16/7).

Lebih lanjut, Nina menjelaskan, jika anak itu mendapatkan asupan gizi yang cukup, mereka akan tumbuh sehat, dengan struktur tulang tumbuh baik, dan ketika mereka tumbuh dewasa, maka bisa cepat menangkap pelajaran, karena sel otaknya tumbuh secara optimal. Berikutnya, setelah mereka dewasa, tentunya mereka akan dapat bekerja lebih baik dan menghasilkan uang lebih banyak karena lebih produktif. 

Dengan begitu, lanjut Nina, mereka yang berasal dari keluarga miskin, pada suatu ketika akan bisa keluar dari lingkaran kemiskinan. Pada akhirnya, negara mendapat manfaat atau kontribusi yang hebat dari investasi gizi.

"Para ekonom dunia, dalam sebuah pertemuan di Kopenhagen tahun 2012 lalu menyatakan, investasi pada gizi betul-betul dapat memutus lingkaran kemiskinan. Selain itu, investasi gizi ini juga dapat meningkatkan GDP di suatu negara. Paling tidak, pertambahannya itu berkisar antara 2-3 persen. Untuk US$1 investasi pada gizi akan menghasilkan keuntungan 30 kali lipatnya. Oleh karena itu, investasi pada gizi itu disebut the smart investment," ujar dia. 

Diakui Nina, masalah gizi ini memang sangat rumit, karena saling berkaitan dengan hal-hal lain. Namun, sebetulnya akar dari persoalan gizi ini adalah kemiskinan, politik, budaya,dan lingkungan, serta kedudukan perempuan dalam struktur masyarakat dan keluarga.

"Hal itu menghasilkan masalah-masalah, misalnya, tidak cukupnya akses untuk mendapatkan makanan yang bergizi sepanjang tahun, tidak dapat mengakses pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan, seperti kesehatan dan air bersih. Dampaknya, anak itu lebih mudah sakit, perkembangan tubuhnya tidak optimal, kemampuan daya saing rendah, produktivitas tidak baik dsb," ucap dia.

Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, tingkat prevalensi anak dibawah umur 5 tahun dengan tinggi badan dibawah standar internasional, di Indonesia mencapai 36 persen. Padahal, rata-rata dunia adalah 26,9 persen.

"Makanya, pemerintah betul-betul ingin menangani masalah ini. Kita sudah menjadi salah satu anggota G20. Kami sudah memasukkan upaya penurunan prevalensi anak dibawah umur 5 tahun dengan tinggi badan dibawah standar internasional ini dalam RPJMN yang sedang berjalan, untuk 2010-2014, dan akan memasukkan itu secara sistematik dalam rencana aksi nasional pangan dan gizi dengan durasi 2010-2015," katanya. [Sumber: Journasi.com]

Lorem ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.


EmoticonEmoticon

:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:o
:>)
(o)
:p
:-?
(p)
:-s
8-)
:-t
:-b
b-(
(y)
x-)
(h)