Tampilkan postingan dengan label Kuliner Desa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner Desa. Tampilkan semua postingan

29 Sep 2013

Minum Kopi Bikin Bahagia Dan Produksi Endorfin

Images | Kopi susu. coolmags.net
Hormon endorfin diproduksi dalam jumlah besar oleh otak saat seseorang mengalami, orgasme, dan dalam keadaan rileks, puas, dan nyaman. 

Minum kopi salah satu cara seseorang berada dalam kondisi rileks dan nyaman. Selain menambah stamina dan energi, minum kopi dapat merangsang hormon endorfin.


Menurut dr Juliana Pateh, endorphin menjadi hormon kebahagiaan yang mampu  memperkuat daya tahan tubuh, menjaga sel otak tetap muda, melawan penuaan, menurunkan agresivitas dalam relasi antar manusia, meningkatkan semangat, daya tahan dan kreativitas. 

Hormon ini diproduksi oleh kelenjar pituiary yang terletak di bagian bawah otak. Hormon ini bertindak seperti morfin, bahkan 200 kali lebih besar efeknya dari morfin. 


Berkat hormon ini kita dapat merasakan perasaan senang dan nyaman dan penuh semangat. “Untuk apa mencari morfin sintetis dari luar tubuh, jika tubuh kita bisa memproduksi sendiri?” ujar dokter yang mengkhususkan pada bidang anti aging ini.


Lewat salah satu kafe Juliet Coffee di Margonda, Depok, diluncurkan  program “Morfin No Endorfin Yes” yang menyajikan menu yang diyakini memiliki kandungan endorfin. Ada smoke beef risoles bersama caramel coffe frappe, cream cheese risoles dan gauda kass cake frappe. Juga ragout risoles, vanilla coffee frappe, soes tuna dan caramel coffee frappe. 


Beberapa makanan seperti coklat, keju, susu, krim mentega diyakini mampu meningkatkan kadar hormon endorfin. Minuman gauda kass cake frape, mencampurkan antara vanila, keju, krim susu yang tergolong comfort food untuk penawar stres dan senjata melawan kecemasan.


Dalam studi Life Science pada 1982 diketahui kafein menciptakan sejenis endorfin yang melakukan stimulasi beta endorfin dalam darah sehingga menimbulkan sensasi nyaman dan mood baik


Menurut dr. Juliana program ini merupakan rasa wujud rasa peduli terhadap maraknya gaya hidup yang tidak sehat dari para kaum muda. “Daripada memakai narkoba atau morfin yang mematikan, lebih baik memproduksi hormon endorphin dari pemilihan menu makanan sehat,” ujarnya. 


Sumber: Tempo.co Berita desa, media desa, informasi desa, desanews, desaonline, kabardesa, infodesa, teknologidesa, sistem pemerintahan desa, sistem pemerintah indonesia, serambidesa, bangundesa, sistem ekonomi desa, politikdesa, foto desa, UU Desa, UUPA, MoU Helsinki, partai lokal, ekonomi desa, budaya desa, mesindesa, alat-alat petani desa, adatdesa, masakandesa,

Manfaat Minum Kopi Bagi Kesehatan

Images | Nona Sehat
NEWSDESA.Com - Manfaat Minum Kopi Bagi Kesehatan. Faktanya adalah, karena popularitas di seluruh dunia, kopi mungkin adalah sumber terbesar dari antioksidan dalam diet global. Dan sementara memiliki banyak itu tidak dianjurkan untuk semua orang, bagi sebagian dari kita, mungkin hanya menjadi superfood abad ini. Berikut adalah sembilan alasan untuk memulai hari dengan penyembuhan ini minuman.

1. Dapat Menurunkan Risiko Kematian

Kita semua akan mati pada akhirnya, tapi kopi tampaknya memperpanjang “ketika” bagi individu dengan kondisi kronis tertentu seperti penyakit jantung dan diabetes, menurut sebuah studi besar 2012. Bahkan, studi ini menemukan bahwa semakin banyak kopi (tiga atau lebih cangkir sehari), semakin rendah risiko kematian terlepas dari apakah partisipan minum kopi berkafein atau bebas kafein. Temuan serupa dengan studi besar lain yang diterbitkan pada tahun 2008.

2. Membantu Menyehatkan Sistem Reproduksi

Guys, jika Anda sedang mencari minuman untuk menurunkan risiko kanker prostat, dan wanita menurunkan risiko kanker endometrium, maka biasakan kamu untuk minum kopi! Sebuah studi 2011 menemukan bahwa pria mengonsumsi setidaknya enam cangkir atau lebih sehari mengalami penurunan risiko kanker prostat sebesar 20 persen! Studi lain yang dipublikasikan dalam Journal Cancer Epidemiology, Biomarkers and Prevention menemukan bahwa wanita yang minum lebih dari empat cangkir kopi sehari memiliki risiko 25 persen lebih rendah terkena kanker endometrium.

3. Membantu Menurunkan Risiko Terkena Diabetes Tipe 2

Sebuah studi 2012 menemukan bahwa senyawa dalam kopi benar-benar membantu untuk memblokir suatu zat dalam tubuh yang disebut human islet amyloid polypeptide yang mungkin memainkan peran dalam perkembangan diabetes. Penelitian lebih lanjut telah menunjukkan bahwa konsumsi kopi berkafein dikaitkan dengan penurunan risiko diabetes juga.

4. Membantu Melindungi Otak Anda

Peminum kopi lebih cenderung untuk menolak perkembangan demensia dan Alzheimer di kemudian hari menurut sebuah studi 2009. Studi lain yang dilakukan pada tikus menemukan bahwa hanya bau kopi membantu mengurangi stres yang berhubungan dengan hilangnya tidur. Jadi, jika Anda tersenyum saat Anda bangun dari tempat tidur dan berjalan ke arah teko kopi, mungkin ada alasan mengapa!

5. Membantu Anda Pulih Setelah Operasi Usus Besar

Jika Anda pernah menjalani operasi, Anda tahu salah satu tanda besar pemulihan adalah kembalinya fungsi usus. Satu studi menemukan bahwa konsumsi kopi membantu untuk mempercepat pemulihan ini bila dibandingkan dengan peminum air.

6. Bagus Untuk Kulit

Minum kopi dapat membantu Anda untuk menangkal diagnosis dari kebanakan penyakit kanker kulit! Sebuah studi dalam jurnal Cancer Research yang khusus mengamati kafein dalam kopi menunjukkan bahwa peminum kopi memiliki risiko lebih rendah terkena karsinoma sel basal.

7. Dapat Membantu Untuk Mengurangi Risiko Kanker Mulut

Meskipun studi tentang konsumsi kopi dan penurunan risiko kanker terbatas, sebuah studi besar baru-baru ini menemukan bahwa orang yang minum empat atau lebih cangkir kopi sehari memiliki risiko 50 persen lebih rendah dari kematian akibat kanker mulut dalam kurun waktu 25 tahun.

8. Membantu Anda memperkuat otot-otot dan DNA Anda

Sebuah penelitian di jurnal Cell Metabolism menemukan bahwa kafein benar-benar memiliki efek yang sama dengan molekul DNA kita dalam otot sebagai latihan (sekarang, ini tidak berarti Anda dapat berhenti berolahraga). 

Penelitian ini melihat secara khusus pada perubahan DNA otot pada individu dan menemukan bahwa efek positif dari kopi yang sama dengan efek yang berasal dari latihan. Yang paling menarik faktor dalam penelitian ini adalah fakta bahwa perubahan positif terlihat agak cepat.

Sumber: Nona Sehat.Com

22 Sep 2013

Tempat Minum Kopi Terlaris di Lhokseumawe dan Banda Aceh

Aceh tidak pernah sepi dari warong kupi. Kebiasaan minum kopi masyarakat Aceh sudah mengakar sejak lama, seja masa kesultanan Nanggroe Aceh Darussalam. 

Maka jangan heran, kalau berkunjung ke provinsi Aceh warung kopi bisa dijumpai dimana-mana. Mulai dari warong kopi tradisional hingga warung kopi moderen yang dilengkapi dengan fasilitas internet gratis dan ruang metting. 
Kopi Aceh, memang mantap.


Berikut beberapa warung kopi Aceh di Kota Lhokseumawe yang ramai dikunjung oleh para pecandu kopi.

UK Caffe, di jalan Merdeka depan Lapangan Hiraq.

Soe Lom Kupi, di Jalan Darussalam. 

Kana Dapu Kupi, di jalan Merdeka.

Tunas Caffe, di jalan Samudera Baru. 

Warkop Solong Alziqra, di jalan Merdeka Timur 12 -13 Mon Gedong

Rajali Kupi, Jalan Listrik Hagu Teungoh

Warkop Simpang Buloh, halan simpang buloh Cunda.

Seuramoe Kupi, Jalan Pabrik Asean No.10 Krueng Geukueh.


Bagi anda yang berkunjung ke Kota Banda Aceh, berikut beberapa tempat banyak dikunjungi baik oleh masyarakat, dari kota lain di Indonesia, dan para turis dari berbagai negara;

Dhapu Kupi di Simpang Surabaya, Banda Aceh tidak jauh dari Mesjid Baiturrahman dan Bandara Iskandar Muda. Pemandangan kota Banda Aceh yang semakin rapih dan cantik dari lantai atasnya sungguh spektakuler.

Warkop Solong di Ulee Kareng, Lampenurut, dan di beberapa tempat lainnya di Banda Aceh  karena cabangnya yang semakin menyebar. Warung Kopi ini memiliki konsumen yang menyukai kopi yang sedikit lebih kuat aromanya dari kopi biasa.

Stone Caffe di Lampineng, 100 meter dari Hotel Hermes. 

Ring Road Coffee di stasiun bus Banda Aceh yang paling meriah dari semua yang ada karena di sini para pemuda sering duduk minum kopi sambil melihat pertandingan sepak bola.

Warkop Solong Mini di Lampineng, 100 meter dari Hotel Hermes. 

Haba Caffe di jalan Lampriet, 20 meter dari Grafari Telkomsell atau 30 meter dari Rumah Sakit Zainal Abidin (RSZA) Banda Aceh.

Tower Kopi di depan Taman Sari Banda Aceh dan hanya 100 meter dari Masjid Baiturrahman adalah tempat berkumpulnya masyarakat kota untuk duduk di luar ruang dan menghadap meja dengan kehangatan kopi kuat Aceh yang harum.

Coffee Bay yang terletak di Ule Lheue kea rah pelabuhan sangat populer bagi para pelancong yang menginginkan rasa kopi Aceh sebelum menyebrang ke Pulau Weh.

24 Jul 2013

Kuah Beulangong Aceh Pada Bulan Suci Ramadhan

Kuah Beulangong, Masakan Khas Aceh
Aceh mayoritas penduduknya adalah muslim. Masyarakat Aceh juga dikenal banyak adat. Salah satu adat masyarakat Aceh adalah masak kuah beulangon pada malam khatam Al-Quran. 

Tradisi ini sering kita jumpai di daerah Aceh Besar dan Kota Banda Aceh. Adat menurut masyarakat Aceh harus dijalankan dan dipenuhi, selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. 


Pepatah Aceh menyebutkan; “Matee aneuk meupat jeurat, matee adat pat tamita.”


Maksud dari pepatah ini yaitu kalau anak kita yang meninggal kita pasti tahu kuburannya dimana, sedangkan kalau adat yang mati kita tidak akan tahu harus mencarinya kemana karena adat itu bukanlah suatu benda yang berwujud.


Hukum dengan adat juga sangat saling berkaitan, seperti yang disebutkan dalam salah satu pepatah Aceh, “Hukom ngon adat, lagee zat ngon sipheuet” Maksudnya yaitu hukum dengan adat itu tidak boleh pisah, layaknya zat dengan sifat.


Lain daerah lain pula tradisi dalam memperingati keagungan bulan suci ramadhan. Di gampong Lamtemen Timur, Kota Banda Aceh, pada malam 15 ramadhan warga mengadakan kenduri khatam Al-Quran.


Warga membawa hidangan kendurinya ke menasah. Pak Keuchik, Imum Meunasah dan Imum Mesjid mengundang warga gampong tetangga untuk menikmati hidangan saat buka puasa. Kenduri ini hampir sama dengan kenduri pada saat bulan maulid, bedanya hanya diadakan pada saat bulan suci puasa. 


Para pemuda dan remaja mesjid, biasanya pada malam 15 ramadhan mengadakan tadarus Al-Quran di meunasah atau mesjid. Pada saat Qurannya sudah khatam, maka diadakanlah sebuah kenduri  yaitu kenduri Tamat Daruh atau Kenduri Nuzulul Quran.


Panitia bersama warga menyembelih lembu untuk dimasak dan kemudian dibagikan kepada masyarakat gampong setempat. Selain itu, kuah beulangong yang dimasak oleh warga itu juga disantap bersama-sama di Meunasah, mulai dari tamu undangan, anak-anak hingga orang dewasa.


Kuah beulangong adalah daging lembu dan buah nangka yang dimasak dalam belanga berukuran besar. Jumlah belanga, biasanya sampai 20 belanga. Daging lembu ini dimasak dengan racikan bumbu khas masyarakat Aceh Besar. 


Menurut Iskandar, salah satu tokoh gampong Lamtemen Timur, tradisi ini sudah turun temurun dilaksanakan pada setiap bulan suci ramadhan, bertepatan dengan memperingati malam Nuzulul Quran. Tradisi masak kuah beulangong sampai saat ini masih tetap dijaga dan dipertahankan oleh masyarakat. 


"Ini sudah berlangsung sejak dulu dan secara terus menerus dilakukan setiap tahun. Kegiatan ini juga dapat mempererat tali silaturrahmi sesama warga" ujarnya. (*)

19 Apr 2013

Hikayat Dagang dan Perang dalam Kari Aceh

BAGI masyarakat Aceh, kari adalah makanan istimewa. Kenduri tanpa kari ibarat pesta tanpa kegembiraan. ”Seperti orang keling kehilangan ketumbar. Orang akan bertanya-tanya jika tak ada kari dalam kenduri,” kata Nurdin.

Kari, ujar Nurdin, harus ada dalam setiap kenduri yang menyertai tiga siklus dalam kehidupan manusia, yakni kelahiran, perkawinan, dan kematian. Kari juga disuguhkan dalam acara-acara kenduri lain, seperti sunatan dan maulid. Biasanya daging yang digunakan untuk kari adalah ayam, sapi, kerbau, bebek, dan kambing. Selain itu, biasanya ditambahkan pula pisang kepok mengkal, hati batang pisang, kluwih, kentang, atau labu, bergantung wilayahnya.

Populernya kari di Aceh menggambarkan bahwa pengaruh kuliner India mengakar kuat di sana meski istilah kari tidak ditemukan dalam catatan-catatan lama. Dua jilid buku The Achehnes (1906) yang ditulis antropolog yang bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda, Snouck Hurgronje, hanya mencatat tiga jenis gulè yang populer di Aceh, yakni gulèmasam keu’euéng, yakni aneka sayur yang direbus dalam air dan dicampur bawang merah, lada, cabai, garam, dan boh slimèng atau asam sunti.

Menu kedua adalah gulè leuma, yakni campuran aneka rempah, seperti jahe, temurui, dan serai. Sebagai lauknya digunakan ikan kering (eungköt tho) atau karéng (ikan kecil dari jenis biléh), atau ikan keumamah, yaitu ikan tongkol kering yang diimpor dari Kepulauan Maladewa di Samudra Hindia. Selain menggunakan asam sunti, kuah ini juga menggunakan santan.

Menu ketiga adalah kuah pi u (pliek u). Kuah ini dibuat dari ampas kelapa yang telah diambil minyaknya lalu dicampur bóh panaïh (nangka muda) dan ikan kering atau ikan kecil. Pada acara kenduri, menurut Snouck, menu yang wajib ada adalah nasi kuning (bu kunyit) dengan lauk gule ikan keumamàh teunaguën. ”Kerbau, sapi, atau kambing jarang dimasak kecuali pada acara-acara sangat besar,” tulis Snouck.

Absennya istilah kari dalam literatur lama tidak mengherankan. Pasalnya, penggunaan istilah kari secara global memang relatif baru. Colleen Taylor Sen dalam bukunya, Curry: A Global History (2009), menyebutkan, istilah kari awalnya tidak digunakan orang India. Mereka menyebut aneka hidangan berempah itu dengan nama lebih spesifik, seperti korma, rogan josh, molee, vindaloo, dan doh piaza.
Kata kari berasal dari bahasa India bagian selatan (Tamil), yakni keril yang dikaitkan dengan tumis sayuran dan daging berempah. ”Tetapi, sekarang orang India sering menggunakan kata kari untuk banyak masakan rumah dengan saus, khususnya ketika mereka bicara dengan orang asing,” tulis Taylor.

Globalisasi istilah kari dimulai saat terjadinya penghapusan perdagangan budak di Kerajaan Inggris pada 1807, yang diikuti penghapusan perbudakan pada 1833. Sebagai penggantinya, Inggris membawa lebih satu juta buruh dari India untuk bekerja di perkebunan-perkebunan di wilayah jajahannya, dari Afrika hingga Malaysia. Para pendatang baru itu mengintegrasikan bumbu-bumbu lokal ke dalam kebiasaan makan mereka untuk menciptakan berbagai kari jenis baru. Fenomena serupa terjadi di koloni Belanda di Indonesia.

Walaupun penyebutan kari secara global relatif baru, menurut Taylor, tradisi kuliner India telah lama merembes dalam kuliner Asia Tenggara, termasuk Indonesia. ”Sejak awal abad ketiga sebelum Masehi, pedagang India dan misionaris Buddha membawa asam jawa, bawang putih, bawang merah, jahe, kunyit, dan lada ke wilayah itu,” sebut Taylor.

Bahkan, menurut Taylor, jenis makanan berempah dan bersantan yang di Indonesia populer disebut sebagai gule sebenarnya bisa digolongkan sebagai kari. Tentu saja, kari yang telah diindonesiakan.
Pengaruh India, terutama dalam penggunaan rempah dan santan, itu jelas terlihat dari tiga jenis masakan Aceh di masa lalu, seperti dicatat Snouck. Sampai sekarang, ketiga jenis masakan itu masih sangat populer di Aceh. Bahkan, menurut Azhari, budayawan Aceh, gulè leuma (gule leumak) memiliki banyak sekali variasi, dari leumak sayuran sampai ikan teupelumak atau udang teupeulemak.

Ikan keumamah—saat ini diproduksi sendiri oleh orang Aceh—juga menunjukkan, lamanya interaksi perdagangan dan kebudayaan antara Aceh dan ”Negeri Atas Angin”, yakni sebutan untuk negeri India, Persia, Arab, dan sekitarnya. Sebaliknya Kepulauan Nusantara di masa lalu dikenal sebagai ”Negeri Bawah Angin”. Penggunaan istilah ”Negeri Bawah Angin” dapat ditemukan pada naskah Hikayat Raja-raja Pasai untuk merujuk wilayah Asia Tenggara, dari Sumatera Utara sampai Maluku. (Ahmad Arif, Budi Suwarna, Aryo Wisanggeni Gentong)

Sumber: Kompas