Tampilkan postingan dengan label Perdesaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perdesaan. Tampilkan semua postingan

8 Okt 2015

Edan! Tambang Pasir di Desanya Salim Kancil Marak Lagi

Lumajang


LUMAJANG, NEWSDESA - Sorotan publik terhadap kasus pembunuhan sadis Salim Kancil dan penambangan pasir ilegal di sekitar desa Salim Kancil, Selok Awar-Awar, Lumajang, belum reda. Namun , berdasar pantauan Jawa Pos kemarin, kegiatan penambangan pasir di sana marak lagi.

Temuan itu menunjukkan instruksi Bupati dan Kapores Lumajang agar seluruh penambangan pasir dihentikan sampai pengusutan pembunuh Salim Kancil tuntas ternyata hanya komitmen di bibir saja (lips service).

Pada Kamis, 1 Oktober lalu, atau lima hari setelah pembantaian biadab Salim Kancil, Pemkab Lumajang sepakat dengan polisi agar semua aktivitas penambangan pasir di Lumajang dihentikan, termasuk yang mengantongi izin.

"Yang tidak berizin kalau tetap operasi akan kami sikat. Sedangkan yang berizin saya minta berhenti dulu untuk kami kaji bersama Pemkab," ujar Kapolres Lumajang AKBP Fadly Mundzir Ismail saat itu.

Bisa jadi, kajian Polres dan Pemkab Lumajang sudah selesai, sehingga berdasarkan pantauan Jawa Pos, aktivitas tambang sudah diperbolehkan. Bahkan, di lokasi yang berdampingan dengan lokasi tambang milik Kepala Desa Selok Awar-Awar Haryono di Pantai Watu Pecak, yakni pantai Bambang, Desa Bago, Kecamatan Pasirian, aktivitas penambangan terlihat ramai. Kegiatan itu berlangsung bebas tanpa pengawasan dari aparat pemerintah kabupaten dan kepolisian.

Yang mengenaskan, dari peralatan dan sumber daya manusia yang dikerahkan, aktivitas penambangan itu bukan lagi penambangan kelas rakyat atau tradisional. Jawa Pos yang memantau kegiatan tambang secara sembunyi-sembunyi menyaksikan ada dua backhoe yang terlihat sedang bekerja di pesisir Pantai Bambang.

Jarak dengan pantai pun lumayan dekat, yaitu sekitar 200 meter. Empat dump truk standby di sana dengan beberapa orang operator sedang menjalankan alat berat tersebut. Truk-truk tersebut hilir mudik mengangkut meterial tambang berupa batu.

Tidak jauh dari situ, terlihat juga aktivitas di dalam stockpile (tempat penimbunan) di sebelah timur area penambangan tersebut. Ada beberapa mesin pengayak, truk dan dua backhoe. Truk tersebut telah selesai diisi dan terlihat berjalan keluar ke arah jalan raya Pantai Bambang.

Tidak hanya di Pantai Bambang, di daerah selatan Kecamatan Pasirian juga terlihat beberapa truk proyek jalur lintas selatan masih bekerja. Beberapa truk tersebut, sengaja diberi tanda tulisan "Kendaraan Proyek JLS". Padahal, material yang diambil oleh truk tersebut berasal dari daerah penambangan di sekitar pantai Bambang.

Pas di sebelah selatan stockpile tersebut juga terlihat puluhan tambang tradisional. Ayakan-akan dan tumpukan pasir berwarna hitam setinggi dua meter menggunung. Namun, sore kemarin, tidak ditemukan satupun penambang pasir tradisional tersebut.

Tidak jauh dari sana juga terdapat gudang yang menyimpan tumpukan hasil ayakan pasir. Pasir-pasir itu dibungkus ke dalam sak dan ditumpuk di dalam gudang yang terbuka. Menurut keterangan salah seorang warga, sebenarnya tumpukan pasir dalam sak tersebut adalah pasir besi.

Saat dikonfirmasi atas temuan tersebut tadi malam, Kapolres Lumajang AKBP Fadly tak mengangkat teleponnya. Padahal siang harinya, Kapolres sempat memberikan keterangan tentang pemeriksaan Camat Pasirian dan Kepala Bagian (Kabag) Ekonomi Setdakab Pemkab Lumajang.

Perihal apa pemeriksaan itu? Fadly menjelaskan mereka diperiksa atas dugaan penambangan ilegal di Desa Selok Awar-Awar Kecamatan Pasirian. Fadly mengelak ketika disingggung terkait dugaan adanya gratifikasi. Fadly menjelaskan, hasil pemeriksaan dari keduanya masih akan didalami. Tidak serta merta ditetapkan tersangka."Semua butuh proses, tidak bisa instan" ungkapnya. (tim JP)


Sumber: JPPN

7 Okt 2015

Aparatur Gampong di Gayo Lues Dibimbing Kelola Keuangan

GAYO LUES, NEWS DESA - Seluruh sekretaris dan bendahara gampong di kabupaten Gayo Lues, Selasa (6/10) mengikuti bimbingan teknis (bimtek) dan pengelolaan keuangan gampung tahun 2015. Kegiatan ini diikuti 312 peserta karena dibagi dalam dua gelombang.

Kepala Dinas Pengelola Keuangan Daerah (DPKD), Jata SE menyatakan, sosialisasi dan bimtek tersebut bertujuan untuk meningkatkan pemahaman sekretaris dan bendahara gampong tentang pengelolaan keuangan gampong yang dikelola berdasarkan asas-asas transparan, akuntabel, partisipatif serta dilakukan dengan tertib dan disiplin anggaran.

“Kita harapkan peserta mampu mengoprasionalkan SIMDES untuk pengelolaan administrasi keuangan desa, dan setelah pelatihan ini mereka bisa menyusunn APBK-P dan membuat laporan tepat pada waktunya,” katanya.

Sementara Sekda Kab Gayo Lues, Thalib S.Sos saat membuka bimtek tersebut mengatakan, nara sumber yang membimbing para peserta langsung datang dari perwakilan BPKP Provinsi Aceh. Dan selama sekretaris dan bendaharan gampong belum mengetahui tata cara pertanggung jawaban keuangan gampong, maka perwakilan BPKP akan terus menjelaskannya.

“Materi dalam sosialisasi dan bimtek ini adalah pengelolaan keuangan gampong, penetapan APBK-P dan penatausahaan keuangan gampong, penerapan pengelolaan gampong, sistem aplikasi Simda desa (Simdes), mekanisme perpajakan, dan pengelolaan bagi hasil pajak retribusi daerah dan pajak daerah,” jelasnya.

Kepada seluruh peserta, Sekda meminta agar benar-benar mengikuti pelatihan tersebut untuk memudahkan pertanggungjawaban di masing-masing desa, dan bisa menjalankan roda pemerintahan gampong dengan baik.

Sumber: pikiranmerdeka.co