Tampilkan postingan dengan label Tokoh Dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Dunia. Tampilkan semua postingan

6 Okt 2013

Jalan Hidup Si Aktivis Buruh Menjadi Presiden

Amerika Latin memang banyak berubah. Tak hanya politiknya yang makin ke kiri dan anti-imperialisme. Satu hal yang tak kalah pentingnya: rakyat jelata tampil sebagai pemimpin bangsa. Salah satunya adalah Luiz Inacio Lula da Silva.
Salah satu adegan dalam film 'Lula: Son of Brazil', garapan sutradara Fábio Barreto, yang memotret kehidupan Presiden Brazil Lula Da Silva.

Ia adalah Presiden Brazil. Tak hanya mampu memimpin Brazil selama dua periode, Lula juga dianggap Presiden paling sukses dalam sejarah negara terbesar di Amerika Selatan tersebut. Ketika masa jabatan Lula berakhir, tingkat penerimaan rakyat atas pemerintahannya mencapai 90%.

Tahun 2009 lalu, sutradara Brazil Fábio Barreto berusaha mengangkat kisah hidup pemimpin Brazil tersebut ke layar lebar melalui film berjudul “Lula, o Filho do Brasil (Lula, The Son of Brazil)”. Film ini memotret kehidupan Lula sejak kelahirannya, tahun 1945, hingga menjadi tokoh gerakan buruh di awal 1980-an.

Lula lahir dari keluarga sangat miskin. Ayahnya, Aristides (Milhem Cortaz), adalah seorang tukang-mabuk dengan pekerjaan tidak jelas. Sedangkan ibunya, Dona Lindu (Glória Pires), sekalipun buta-huruf, tetapi sangat mempengaruhi perkembangan pribadi Lula dengan ajaran moralnya.

Tekanan kemiskinan itulah yang memaksa ibunya, Dona Lindu, memboyong Lula dan saudara-saudaranya meninggalkan kampung halamannya dan pindah ke Guarujá, di negara bagian São Paulo. Perjalanan mereka—disebut jalan menuju kebahagiaan—memakan waktu 13 hari dan hanya menumpang truk terbuka.

Di kota itu, Lula dan keluarganya berjuang untuk hidup. Lula kecil (Felipe Falanga) sempat menikmati bangku sekolah dasar. Lula terbilang anak yang cerdas. Sayang, tekanan kemiskinan memaksa Lula meninggalkan bangku sekolah saat ia baru menginjak kelas-empat.

Lula kecil harus menjadi anak jalanan: jadi tukang semir sepatu dan pedagang asongan. Saat Lula beranjak dewasa, ia sempat bekerja di Dry Cleaning. Saat itu juga, Lula nyaris tewas bersama keluarganya karena gubuknya diterjang banjir. Lula, seperti orang Brazil pada umumnya, sangat menyukai sepak-bola.

Usia 14 tahun, Lula ikut kursus pelatihan kerja di National Industrial Learning Service (SENAI). Ia mendapat sertifikat lulus sebagai operator bubut tahun 1961. Beberapa tahun kemudian, ia bekerja di pabrik suku cadang mobil.  Namun, sebuah kecelakaan kerja di pabrik suku cadang mobil itu membuat Lula kehilangan jari kelingkingnya.

Kakanya, Frei Chico—akrab dipanggil Ziza (Sóstenes Vidal)—adalah seorang aktivis serikat buruh berhaluan kiri. Kakaknya itulah yang memperkenalkan Lula dengan serikat buruh.

Setelah mendapat pekerjaan, Lula menikahi pacarnya, Lurdes (Cléo Pires). Mereka hidup sangat bahagia. Sayang, kebahagiaan itu berakhir tatkala nyawa Lurdes tak terlotong saat melahirkan. Istrinya meninggal bersama bayinya yang belum lahir. Kejadian itu benar-benar memukul Lula.

Lula kemudian makin aktif di gerakan buruh. Ia menjadi anggota serikat buruh metal São Bernardo. Aktif di serikat, Lula bertemu perempuan yang kembali memikat hatinya, Marisa Leticia (Juliana Baroni). Tidak lama kemudian, kedunya memutuskan menikah.

Bersamaan dengan itu, Brazil jatuh ke tangan kediktatoran militer. Aktivitas politik, termasuk serikat buruh, sangat dibatasi. Pada saat itu, tahun 1972, Lula terpilih sebagai salah satu anggota dewan buruh di Serikat Buruh Metal Sao Bernando. Tiga tahun kemudian, Ia menjadi Presiden serikat buruh itu. Ia memenangkan 92% suara dari 140,000 orang anggota.

Saat itu, Lula makin radikal dan militan. Ia juga mulai tampil sebagai orator hebat. Di akhir 1970-an, akibat kebijakan penghematan yang dipaksakan oleh IMF, serikat buruh Brazil melancarkan pemogokan. Lula mulai tampil berpidato dalam aksi-aksi mogok, termasuk buruh di region ABC, yang dikenal paling militan.

Februari tahun 1979, di Morumbi, kesebelasan Corintians bertanding dengan Guarany di kejuaraan São Paulo. Lula, yang saat itu jadi penonton, terinspirasi dengan banyaknya orang di Stadion. Ia berkeinginan stadiun sepak bola itu diisi pekerja.

Maret 1979, Lula mengorganisir pekerja metalurgi yang mogok untuk menduduki stadion sepak bola Vila Euclides di  São Bernardo. Tanpa pengeras suara, Lula menyampaikan pidato yang dieja ulang oleh pendengarnya. Dua hari kemudian, ketika 170.000 pekerja bergabung, pemogokan itu dianggap ilegal.

Polisi dan militer dikirim untuk menindas pemogokan. Akhirnya, Lula memindahkan aksinya ke gereja. Pada peringatan 1 Mei 1979, 150 ribu buruh memenuhi stadion. Lula pun tampil sebagai tokoh dan sekaligus pahlawan gerakan buruh.

Tahun 1980, Lula kembali melancarkan pemogokan 41 hari yang terkenal di Brazil. Lebih 140 ribu buruh metal bergabung dalam pemogokan untuk menuntut kepastian kerja, pengurangan jam kerja, dan hak pemimpin serikat memasuki pabrik kapan saja.

Rezim berkuasa mulai gerah dengan aksi Lula. Akhirnya, pada 19 April 1980, Lula ditangkap di rumahnya. Lula dipenjara. Saat itulah kemalangan kembali menimpa Lula. Ibunya, Dona Lindu, meninggal saat lula dipenjara. Ia mendatangi prosesi pemakaman ibunya dengan pengawalan polisi.

Tahun 1980, Lula menjadi salah satu pendiri Partai Buruh. Tiga kali menjadi kandidat Presiden, yakni 1989, 1994, dan 1998, tetapi menemui kegagalan. Barulah pada pemilu tahun 2002, Lula berhasil terpilih sebagai Presiden Brazil.

Film garapan Fabio Barreto ini memang lebih banyak memotret sisi pribadi Lula Da Silva. Sementara aktivitas dan pandangaan politiknya tidak begitu menonjol. Baretto sendiri punya alasan: “karena setiap orang tahu kehidupan politik Lula, tetapi sangat sedikit yang tahu kehidupan pribadinya.”

Jadi, jangan heran, Lula dalam film ini juga digambarkan sebagai seorang lelaki romantis, mencintai keluarganya, dan sangat dekat dengan ibunya. Boleh dikatakan, seperti dikisahkan film ini, orang paling berpengaruh dalam kehidupan Lula adalah ibunya.

Ulfa Ilyas | berdikarionline.com

Sosok 9 Presiden Paling Sederhana Di Dunia

| 9 Presiden yang memilih hidup sederhana dan merakyat (Jose 'Pepe' Mujia, Fidel Castro, Fernando Lugo, Evo Morales, Hugo Chavez, Lula Da Silva, Rafael Correa, Nelson Mandela, dan Mahmoud Ahmadinejad.|
Bagi sebagian orang di dunia, termasuk di Indonesia, kehidupan seorang Presiden identik dengan kemewahan. Banyak Presiden di dunia tinggal di rumah mewah, kemana-mana naik limusin, punya banyak pengawal, fasilitas serba mewah, gaji banyak, dan bisnis keluarga yang dijalankan oleh anak dan istri.

Namun, tidak semua Presiden seperti itu. Di belahan dunia lain, terutama di Amerika Latin, muncul pemimpin-pemimpin yang tak beda jauh dengan kehidupan rakyatnya. Bagi mereka, menjadi Presiden adalah melayani rakyat.

Berikut nama-nama Presiden yang cukup sederhana di dunia:

1. Fernando Lugo

Dia mendapat julukan “pastor kaum papa”. Maklum, sebelum menjadi kandidat Presiden, Fernando Lugo adalah pastor yang sangat getol membela kaum tertindas. “Bila ada hal yang paling menyakitkan saya, maka itu adalah ketidakadilan dan terutama sekali ketidakadilan sosial,” kata Lugo.

Begitu dilantik menjadi Presiden tahun 2008, Lugo langsung menyatakan tidak akan menerima gajinya sebagai Presiden sebesar 4000 USD per bulan. “Saya tidak membutuhkan gaji itu, yang sebetulnya hak kaum miskin,” katanya.

Selama menjadi Presiden, Lugo memilih tetap tinggal di rumahnya yang sederhana. Ia juga selalu berpakaian sangat sederhana: kemeja panjang atau lengan pendek.

Rikard Bagun dalam laporannya berkepala “Terperangah atas Asketisme Lugo” menulis, “Setiap tamu, termasuk kami bertiga dari Indonesia (saya, Budiman, dan Martin), ikut menikmati makanan harian Lugo berupa singkong rebus, nasi putih, daun kol cacah (salad), dan ikan. Jenis makanan sehari-hari rakyat biasa di Paraguay. Tidak ada yang istimewa.”

Rikard juga melihat, pada hari pertama di jabatannya, Lugo dan Hugo Chavez menyantap makanan rakyat Amerika Latin, seperti ubi kayu, jagung, dan pisang rebus. Sayang, 22 Juni 2012 lalu, Fernando Lugo dikudeta oleh sayap kanan melalui parlemen.

2. Jose ‘Pepe’ Mujica

Jose Mujica adalah salah satu pemimpin Gerakan Pembebasan Nasional Tupamaro (MLN-T). Ia menghabiskan 14 tahun di penjara karena aktivitas gerilya melawan kediktatoran.

Ia memenangkan pemilu tahun 2009 dan resmi menduduki jabatan Presiden pada Maret 2010. Sejak menjadi Presiden Uruguay, Pepe Mujica memilih tinggal di rumahnya di pinggiran kota Montevideo. Di rumahnya itu tidak ada pelayan. Hampir semua pekerjaan rumahnya, seperti memasak, dikerjakan sendiri.

Selama menjadi Presiden, Pepe Mujica menyumbangkan 90 persen gajinya untuk menambah anggaran sosial negerinya. Pada tahun 2010, kekayaannya pribadinya tak lebih dari 1800 AS dollar atau sekitar Rp 18 Juta. Ia juga hanya menggunakan Volkswagen Beetle keluaran 1987 sebagai kendaraan pribadinya.

Hidup sederhana memang filosofi hidup politisi kiri ini. Ketika ia menjadi anggota parlemen, ia memang sudah sangat sederhana. Sampai-sampai  Petugas parkir gedung parlemen sangat kaget ketika melihat Mujica datang hanya mengendari motor vespa.

3. Hugo Chavez

Hugo Chavez lahir dari keluarga kelas pekerja. Ia tumbuh dalam kehidupan yang sangat miskin bersama neneknya. Begitu terpilih sebagai Presiden tahun 1998, Chavez menggunakan kekuasannya untuk memberdayakan kaum miskin.

Dia juga adalah sosok Presiden yang sederhana. Seperti Fernando Lugo dan Jose Mujica, Chavez juga menyumbangkan sebagian besar gajinya untuk anggaran sosial. Chavez juga dikenal Presiden yang sangat merakyat. Ketika melakukan kunjungan, Ia hanya menggunakan jeep atau menumpangi truk.

Ketika hujan lebat mengguyur Venezuela, yang berakibat banjir hebat di mana-mana, Chavez membuka pintu istana Kepresidenan sebagai tempat penampungan. Baginya, Istana Kepresidenan adalah rumah rakyat.

Chavez adalah pembebas bagi rakyat Venezuela. Ia menggunakan kekuasaannya untuk merebut kembali kontrol terhadap sumber daya dan kemudian menggunakannya untuk memberantas kemiskinan, membebaskan rakyat dari buta huruf, menggratiskan pendidikan dan kesehatan, menciptakan toko sembako murah di seantero negeri, dan uan pensiun bagi lansia.

4. Fidel Castro

Fidel Castro adalah salah satu pemimpin Revolusi Kuba tahun 1959. Sejak itu, Kuba bergerak menuju sosialisme. Tak heran, karena langkahnya yang berbeda dengan jalan imperialisme itu, Fidel Castro dan Kuba banyak didiskreditkan.

Yang sering terdengar, Fidel dianggap diktator dan hidup sangat mewah. Majalah Forbes, misalnya, menuding Fidel punya simpanan 900 juta USD di luar negeri. Berbekal tudingan palsu itu, media-media mainstream menempatkan Castro sebagai orang terkaya di dunia.

Pada kenyataannya, Castro hidup sangat sederhana. Ia tak punya limusin seperti Obama. Pada kenyataannya, hanya menerima gaji sebesar 900 peso (Peso Kuba tidak punya nilai di pasar internasional, tetapi nilai domestiknya setara kira-kira 36$ per bulan atau sekitar Rp 350 ribu). Di Indonesia, kita hampir tidak menemukan lagi ada buruh yang dibayar di bawah Rp 350 ribu per bulan. Tetapi Kuba membayar gaji Presidennya hanya Rp 350 ribu.

Fidel sendiri sudah membantah tudingan Forbes. Ia bahkan menantang Forebs, “Jika anda bisa membuktikan saya punya uang 1 dollar di luar negeri, saya akan mundur dari jabatan saya.”

Dalam wawancaranya dengan Ignacio Ramonet, seperti ditulis di buku “Fidel Castro: My Life”, sekalipun gajinya pas-pasan, ia mengaku tidak sekarat dalam kelaparan. Sudah begitu, gaji yang kecil itu harus dia sisipkan untuk menyetor iuran ke partai.

5. Nelson Mandela

Siapa yang tak kenal Nelson Mandela? Dia merupakan pemimpin terkemuka pembebasan Afrika Selatan dari kolonialisme dan apartheid. Namanya begitu termasyhur di seluruh penjuru Afrika dan dunia.

Meski begitu, Mandela tetap merupakan sosok yang sederhana. Begitu menjadi Presiden tahun 1994, Mandela rutin memotong gajinya untuk disumbangkan bagi anggaran sosial. Malahan, kemudian, ia menyerahkan sepertiga gajinya untuk membantu anak-anak.

Rumahnya di Johannesburg maupun di desa asalnya, Qunu, terbilang sederhana dan tak ubahnya dengan rumah masyarakat umum.

Tahun 1994, ketika negerinya didera utang warisan rejim lama, Mandela menyerukan pejabat negerinya mengencangkan ikat pinggang. Namun, sebagai langkah awal, ia memulai dengan memotong gajinya sendiri dan gaji Wakil Presiden.

6. Rafael Correa

Rafael Correa adalah ekonom bergelar PhD jebolan University of Illinois, AS. Namun, sekalipun menimbah ilmu di AS, Correa justru sangat anti-neoliberal.

Pada saat Luis Alfredo Palacio, Correa menjadi salah satu menterinya. Saat itu Correa berani menentang proposal IMF dan Bank Dunia. Sayang, tindakannya tidak direstui Presiden Ekuador saat itu. Correa pun mundur dari jabatannya. Namun, sejak peristiwa itu, nama Correa makin populer dan dikagumi rakyat.

Correa sendiri terbilang pemimpin sederhana. Tanggal 6 April lalu, ketika APBN Ekuador diancam defisit, Correa mengeluarkan dekrit untuk membekukan pembayaran gaji pejabat tinggi selama dua tahun. Itu termasuk gaji Presiden, Wakil Presiden, Menteri, dan pejabat tinggi lainnya.

Tak hanya itu, ia juga memotong gajinya dari sekitar 8000 USD menjadi 4000 USD. Memang, gaji pejabat Ekuador termasuk tertinggi di kawasan Andean. Dengan pemotongan gaji itu, Correa menyelamatkan APBN tanpa memangkas subsidi sosial rakyatnya.

7. Evo Morales

Evo Morales adalah Presiden pribumi pertama dalam sejarah Bolivia. Seperti kebanyakan pribumi Bolivia lainnya, Evo kecil sangat miskin dan menghabiskan masa kecilnya dengan menggembala domba. Karena tekanan kemiskinan itu pula, Evo tidak bisa menuntaskan pendidikannya.

Evo adalah seorang petani. Penderitaan yang dialami oleh petani membuat Evo tertarik bergabung dalam serikat petani koka. Pada tahun 1995, ia turut mendirikan partai gerakan sosial bernama Gerakan untuk Sosialisme (MAS).

Dalam pemilu 2005, Evo memenangkan pemilu Presiden. Ia resmi menempati jabatannya Januari 2006. Begitu ia menempati jabatannya, Evo mengumumkan pemotongan setengah gajinya untuk meningkatkan jumlah guru dan dokter.

“Kita membutuhkan 6000 guru baru dan membutuhkan uang 2.200 USD,” katanya. Ia juga menyerukan agar menterinya mengikuti langkahnya. “Bukan untuk Evo, tetapi untuk rakyat,” tambahnya.

Ketika Peru dilanda gempa bumi, pada tahun 2007, Evo juga mendonasikan separuh gajinya untuk korban gempa. Begitu pula ketika terjadi gempa di Haiti dan Chile, Evo juga memotong separuh gajinya dan gaji Wakil Presiden untuk disumbangkan ke rakyat Chile dan Haiti.

Selama menjadi Presiden, penampilan Evo tidak berubah. Ia lebih sering memakai pakaian sederhana, seperti jaket kulit atau sweater biasa. Ia juga tidak meninggalkan kebiasan kaum pribumi mengunyah daun koka.

8. Ahmadinejad

Ahmadinejad, yang pernah menjadi Walikota Teheran, Ibukota Iran, resmi menjadi Presiden tahun 2005. Saat itu, ia diminta mengumumkan kekayaannya. Ternyata, kekayaannya hanya satu rumah sederhana seluas 175 meter persegi dan mobil Peugeot putih keluaran 1977.

Selain itu, ketika baru menempati jabatannya, ia meminta pembantunya menggulung karpet antik peninggalan Persia di istana negara dan menggantinya dengan karpet biasa. Ia menolak kursi V.I.P di pesawat Kepresidenan.

Ahmadinejad selalu berusaha menggambarkan dirinya tidak berjarak dengan rakyat kebanyakan. Beberapa fotonya beredar di dunia maya memperlihatkan Ia tertidur pulas di atas karpet biasa.

9. Lula Da Silva

Lula Da Silva adalah Presiden Brazil yang berlatar-belakang aktivis buruh. Ia lahir dari keluarga yang sangat miskin. Lantaran itulah ia harus meninggalkan bangku Sekolah Dasar. Sejak usia 12 tahun, Lula kecil hidup di jalanan, jadi tukang semir sepatu dan menjual kacang.

Pada usia 14 tahun, Ia bekerja di pabrik pengolahan tembaga dan menempati posisi operator mesin bubut. Lima tahun kemudian, ketika ia bekerja di perusahaan otomotif, ia kehilangan jarinya karena kecelakaan kerja. Namun, kejadian itulah yang mendorong Lula mengorganisir kawan-kawannya sesama pekerja untuk membangun serikat dan memperjuangkan hak-haknya.

Di bawah kediktatoran, Lula tampil sebagai aktivis kiri penentang kediktatoran. Tahun 1971, Lula terpaksa menyaksikan Istrinya, Maria de Lourde, yang menderita penyakit hepatitis, meninggal karena ketiadaan uang untuk membeli obat. Tahun 1978, Ia menjadi Presiden Serikat Buruh Pabrik Baja. Ia juga terlibat dalam pendirian Partai Buruh (PT).

Tiga kali maju sebagai Calon Presiden, Lula akhirnya terpilih pada tahun 2002. Pertama kalinya dalam sejarah Brazil dipimpin oleh Presiden berhaluan kiri dan dari latar-belakang klas pekerja.

Begitu menjadi Presiden, Lula tidak mengubah kehidupannya. Ia tetap berpenampilan sederhana. William Gonçalves, seorang Professor di Universitas Negara Rio De Jeneiro, mengatakan, “Lula adalah rakyat. Ia mengerti perasaan mereka dan berbicara dengan bahasa mereka.”

Lula terpilih dua kali sebagai Presiden Brazil. Masa pemerintahannya dianggap sangat sukses. Tak heran, tingkat penerimaan rakyat terhadap pemerintahan Lula mencapai 80%. # Raymond Samuel | berdikarionline.com