Tampilkan postingan dengan label Islamic Library. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamic Library. Tampilkan semua postingan

15 Okt 2013

Idul Adha, Bukan Hanya Ritual Keagamaan

Selasa besok adalah perayaan Idul Adha atau hari Raya Haji yang akan serentak di rayakan di berbagai penjuru dunia. Semua umat Islam pada 10 Dzulhijah 1434 H akan melaksanakan shalat Idul Adha dan penyembelihan hewan Qurban.

Ilustrasi: Shalat Idul Adha
Hari Raya Idul Adha merupakan rangkaian ibadah Haji di Kota Mekkah Al Mukaramah. Besok pagi seluruh jamaah haji dari seluruh dunia bersama-sama melaksanakan rangkaian puncak ibadah Haji dan penyembelihan hewan Qurban.

Dalam memaknai hari raya Idul Adha, jika kita mau memetik pesan yang terkandung dalam ritual keagamaan itu sangat luas pelajaran yang bisa di ambil. 

Kepedulian sosial adalah salah satu pesan moral yang bisa dipetik, dengan berqurban menyembelih hewan ternak dari rizki yang di karuniakan Tuhan dan membagikan kepada kaum yang masih kekurangan. 

Dengan sikap rela memberikan dan berbagi kesenangan kepada yang lain merupakan sikap membangun hubungan sosial dengan landasan saling membagi dan mengasihi sebagai rasa syukut atas nikmat Allah.

Peduli berarti memperhatikan keadaan dan turut merasakan dan bersikap tanggap dengan melakukan suatu taindak atau action, bukan hanya sebatas kata-kata, "manis dimutut tapi pahit dilaksanan".

Makna berqurban tidak akan hanya sampai pada arti berkurban yang hanya sesaat, akan lebih tepat jika sikap mau berbuat dan memberi dalam kehidupan keseharian, baik dalam lingkup sosial masyarakat maupun sikap sosial dalam tatanan sosial seluruh dunia, sehingga akan tercipta harmonisasi umat manusia tanpa ada perbedaan identitas.

Kita bisa melihat ibadah Haji yang dilaksanakan di Kota Mekkah Al Mukaramah melibatkan semua umat manusia dari berbagai suku dan bangsa, di sana dalam niat dan kebersamaan melaksanakan panggilan agamanya.

Dengan kesadaran bahwa semua yang hadir memiliki kesatuan pandangan bahwa haji adalah ibadah nyata dalam berhubungan sesama manusia (hablum minannas) dan peningkatan ketaqwaan kepada Allah (hablum minallah)

Aktualisasinya yaitu setelah pulang dari ibadah Haji terbentuk sikap nyata dari semua rangkaian ritual ibadah yang telah dilakukan di Tanah Suci, Baitullah.

Imam Masjid Baiturrahman Wafat Saat Menjadi Khatib Idul Adha

Berita Desa - Datangnya kematian atau maut selalu tak disangka-sangka dan kadang tak pilih tempat. Seorang warga Pangkalankerinci bernama Syawir (60) mungkin beruntung karena dia meninggal dunia dalam keadaan sedang beribadah.  
Ilustrasi: Shalat Idul Adha |10 Dzulhijjah 1434 H


Pensiunan PNS Pemkab Pelalawan dipanggil menghadap Tuhan saat berdiri jadi khatib Salat Idul Adha 1432 Hijriyah. Ia terjatuh ke lantai ketika membaca doa di khutbah kedua, lalu menghembuskan nafas terakhir di pangkuan para jamaah.

Peristiwa langka ini terjadi di dalam Masjid Baiturrahman Jalan Melur Pangkalankerinci. Sekitar tiga ratus jamaah khusyuk mendengar doa yang dibaca Syawir. Namun tiba-tiba suara itu hilang. 

Mengetahui khatib telah rebah ke lantai depan mimbar, seorang jamaah menggantikan posisinya untuk melanjutkan doa penutup. Jamaah yang lain memberi pertolongan pada Syawir. Namun begitu tubuhnya ditelentangkan, pria yang sehari-harinya jadi imam lima waktu di Masjid Baiturrahman ini menghembuskan nafas terakhir.

Suasana riuh sebentar, karena jamaah di shaf belakang ingin melihat apa yang terjadi. Namun setelah mengetahui khatib mereka wafat, jamaah langsung tenang. 

Banyak warga yang langsung membacakan doa untuk almarhum. Jenazah Syawir lantas disemayamkan sebentar di masjid tersebut, menunggu persiapan tempat persemayaman di kediamannya. Tak lama kemudian ratusan jamaah ikut mengantarkan jenazah ke kediaman almarhum.

Syawir dikenal sebagai seorang tokoh dan panutan bagi masyarakat sekitar tempat tinggalnya, lantaran budi pekerti yang luhur dan gemar menolong. Dia merupakan alumni sebuah pondok pesantren dan teman seangkatan mantan bupati Pelalawan H Rustam Effendi MA. 

Setelah pensiun dari PNS beberapa tahun lalu, Syawir lebih banyak beraktivitas di bidang keagamaan, dengan mengabdikan dirinya jadi imam dan khatib tetap di Masjid Baiturahman.

Itu sebabnya proses kematiannya yang berbeda dengan kebanyakan orang, lantas dikait-kaitkan warga setempat dengan kebaikannya semasa masih hidup. 

‘’Mudah-mudahan beliau khusnul khatimah dan masuk surga. Dia senyum sebelum meninggal,’’ tutur H Muhtar, seorang pengurus masjid Baiturrahman yang juga sahabat dekat almarhum.

Menurut Muhtar, kondisi tubuh Syawir tampak sangat sehat dan bugar, baik selama membacakan khutbah maupun sebelum naik mimbar. 

(Sbr: riaupos.co)

12 Okt 2013

Qurban; Peristiwa Besar Umat Islam

Ilustrasi
Dua hari lagi kita akan tiba pada hari raya Idul Adha, ada yang menyebut dengan hari Raya Haji. Pada hari tersebut sebagian umat Islam di seluruh pelosok dunia berkumpul di tanah suci untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima.

Dan sebagian umat Islam yang lain di seluruh dunia akan melaksanakan penyembelihan hewan Qurban. Penyembelihan hewan kurban merupakan simbolisasi klimaks dari rangkaian ujian berat yang dialami oleh Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra tercintanya Ismail.

Secara etimology Qurban berasal dari bahasa Arab yang artinya dekat. Mayoritas ulama berpendapat Qurban adalah segala sesuatu yang di persembahkan kepada Allah dalam mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dengan melaksanakan penyembelihan hewan ternak. 

Dalam kitab Islam disebutkan, hukum Qurban adalah Sunnat Muakkad yang berlaku secara Kifayah. Da akan menjadi hukum wajib apabila di Nazarkan. Catatan bagi kita semua, jika seseorang menyatakan secara lisan kepada orang lain, bahwa; "ini binatang qurban saya", maka ucapan tersebut dihukumkan sebagai Nazar. Dengan sendirinya hukumnya berubah dari Sunnah Muakkad menjadi Wajib. 

Maka disarankan kepada pemilik binatan Qurban agar menyebutkan dengan lafal; "ini qurban sunnat saya" atau seumpamanya untuk meng-antisipasi agar tidak berubah status menjadi wajib. Bila tidak, maka sipemilik Qurban tidak boleh makan sedikitpun dari Qurbannya karena akan membatalkan hukum Qurban.

Qurban diawali oleh sebuah peristiwa besar yaitu penyembelihan Ismail oleh Nabi Ibrahim atas perintah Allah. Peristiwa itu pada akhirnya Allah SWT menggantikan dengan se-ekor hewan (qibas). 

Peristiwa itu pula merupakan rekaman percakapan yang sangat fantastis dan kemudian Allah abadikan dalam surat Ash Shaffat (37) ayat 102 yang artinya; "Hai anakku, sesungguhnya Aku melihat dalam mimpiku bahwa aku diperintahkan untuk menyembelihmu, maka bagaimana menurut pendapatmu? Ismail menjawab, Wahai ayahnda, laksanakan apa yang diperintahkan kepadamu niscaya engkau akan mendapatku Insya Allah termasuk orang-orang yang shabar".

Ibarat sebuah film, peristiwa Qurban yang dijalankan Nabi Ibrahim dan keluarganya merupakan dokumentasi yang tetap aktual dan selalu menarik untuk ditonton sepanjang zaman. 

Qurban juga menyediakan samudera hikmah yang tak habis untuk diselami sepotong efisode, karena rekaman itu menjadi "film besar" sepanjang sejarah dan peradaban manusia. Film besar itu adalah percakapan antara ayah dan anak, antara Nabi Ibrahim dan Ismail yang sangat termasyhur.

Secara Psikolinguistik, percakapan tersebut dapat dianalisi ke dalam empat bagian.

Pertama; Kedua tokoh mengawali ucapan dengan kalimat penghormatan, "Ya bunayya" (Ibrahim), kemudian dijawab oleh Ismail "Ya Abati". Kedua kalimat tersebut, dalam bahasa Arab memiliki makna yang amat sangat mulia, santun dan bermartabat. Meskipun dalam komunikasi tersebut, terjadi sebuah peristiwa yang sangat besar dan mengerikan. 

Kedua; Ibrahim menyampaikan pesan tidak dengan nada instruktif (perintah langsung), namun komunikasi tersebut terjadi secara konsultatif (meminta tanggapan). Pada saat peristiwa itu, Ibrahim memposisikan diri sebagai ayah yang demokratis bukan otoriter, dan posisi yang setara.

Ketiga; meskipun mengenggamkan kebebasan memilih, namun Ismail lebih memenagkan perintah Allah SWT dari pada memperturutkan ego pribadi. Sikap ini menguatkan hati sang Ayah yang dalam sebuah peristiwa besar. Menutur sebuah riwayat disebutkan Nabi Ibrahim sempat ragu-ragu untuk melaksanakan perintah Allah tersebut. 

Ke-empat; bagian akhir dari kalimat Ismail tersebut adalah pertanda sikap tawadhu atau rendah hati dengan ucapan; "Insya Allah menjadi orang yang sabar". 

Dari empat analis tersebut, banyak pesan moral yang dapat dipetik. Diantaranya adalah bagaimana Nabi Ibrahim mewujudkan keluarga yang "Sakinah Mawaddah Warahmah" ditengah tekanan yang sangat berat. Namun Nabi Ibrahim mampu menyelesaikannya dengan berdialog dan bermusyawarah bersama putranya Ismail. #Semoga bermanfaat. 

4 Okt 2013

Rakyat Indonesia Menyukai Pemimpin Jahat?

Sebagai negara dan bangsa yang telah 62 tahun merdeka, semua rakyat di berbagai lapisan, kecuali di lingkungan pejabat dan penjahat negara terus-menerus mengeluh dengan berbagai macam penderitaan, kemiskinan, kebodohan, penyakit, pengangguran, dan kriminalitas yang semakin bringas serta biadab. Sehingga membuat kita harus bertanya, mengapa semua ini menimpa negeri kita?

Siapa biang kerok yang menanggung kesalahan fatal ini? Apa sebabnya begitu lama bangsa ini dirundung kemurungan dan kenistaan, padahal kita mengaku sebagai bangsa religius, beradab, berhati lembut, dan berjiwa santun? Menguap kemanakah sifat-sifat baik dari bangsa ini, sehingga kini hanya menyisakan moralitas tercela dan rendah? Apakah pengakuan bahwa bangsa ini religius, berhati lembut dan berjiwa santun sekadar lip service dan propaganda palsu, ataukah fakta sejarahnya memang demikian?


Image | dakwahtuna.com

Agaknya kita harus berani mengkritik diri sendiri dan membongkar topeng-topeng palsu bangsa kita dengan menengok sejarah masa lalu kita. Dari situ kita memulai untuk bercermin diri, untuk mengetahui dengan yakin apakah kita ini bangsa yang bobrok atau bangsa yang baik?

Menyukai Pemimpin Jahat

Bahwa Indonesia adalah bangsa yang bobrok, rusak moral, dan kacau pikirannya, sudah banyak contohnya. Selama ini, belum pernah Indonesia dinilai positif oleh dunia internasional, dan belum pernah rakyatnya merasakan kebaikan para pemimpin negaranya.

Di zaman orde lama (Orla), selama 22 tahun dipimpin Soekarno, Indonesia dikenal sebagai bangsa tempe, melarat, kemiskinan merajalela. Selama 32 tahun dipimpin Soeharto, rezim orde baru (Orde) dikenal sebagai negara pelanggar HAM parah, sementara warisan hutang luar negeri bejibun, dan menjadi beban rakyat Indonesia. Setelah Orla dan Orba berlalu, negeri kita belum juga naik peringkat, malah lebih terpuruk dari sebelumnya.

Sejak BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, hingga Susilo Bambang Yudhoyono yang terkenal dengan slogan “bersama kita bisa”, berturut-turut Indonesia menduduki posisi teratas dalam hal jeleknya. Sebagai negara terkorup se-Asia, produsen ekstasi terbesar di dunia, paling akrab dengan bencana, paling miskin rakyatnya, paling banyak hutang luar negerinya. Selain itu, negeri kita juga dikenal sebagai negara teroris, maju dibidang pornografi dan pornoaksi, dan yang paling parah negara pengekor asing paling setia.

Kondisi Indonesia yang kian carut-marut hampir dalam segala kehidupan, membenarkan adagium (anggapan), bahwa munculnya pemimpin jahat datang dari masyarakat yang rusak. Dan kerusakan di masyarakat, disebabkan berkuasanya pemimpin jahat, koruptor, perusak moral, mengejar hawa nafsu, bohong kepada masyarakat. Pemimpin jahat biasa memanipulasi kepentingan pribadi dan partainya menjadi kepentingan negara dan masyarakat.

Firman Allah swt, “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada mutrafin (orang-orang yang hidup mewah di negeri itu) supaya mentaati Allah, tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Terj. QS Al Isra’ : 16).

Kepemimpinan “mutrafin” artinya serakah cirinya ada tiga: Hedonis; Menuntut rakyat memenuhi kepentingannya tetapi dia tidak bisa memenuhi kebutuhan rakyatnya; Tidak peduli dan tidak berpihak kepada rakyat miskin dengan berbagai aturan yang dibuat. Semua kebijakannya hanya menguntungkan kepentingan hidupnya sendiri. 

Adanya pengaruh-pengaruh merusak dari tiga kelompok kekuatan di tengah masyarakat akan berdampak lahirnya pemimpin-pemimpin yang buruk manajemennya, rusak moralnya dan berhati serigala dalam menghadapi kelompok masyarakat yang lemah.

Contoh, import barang mewah, mobil mewah, mendirikan rumah sakit mewah, industrialisasi, eksploitasi hutan dan tambang, nasionalisasi kebutuhan pokok masyarakat yang tidak memihak kepada rakyat luas. Jalan raya yang dibutuhkan rakyat tidak diurus, kereta api tidak diurus. Namun, ketika anggota DPR butuh laptop malah dibiayai oleh uang negara. Kasus Lumpur Lapindo terkatung-katung, hak-hak tanah masyarakat dikalahkan oleh kepentingan penguasa untuk airport, mall, pabrik dan sebagainya. Rakyat dihargai hak-haknya setelah melawan, seperti yang dilakukan Aceh (GAM dan NII Daud Beureuh).

Mengapa rakyat Indonesia menolak pemimpin yang baik? Karena mental rakyat Indonesia adalah mental aji mumpung. Menderita sekian lama dapat kesenangan sedikit sudah lupa, tidak tahu diuntung. Dalam praktik demokrasi, pemimpin terpilih menunjukkan kualitas rakyat.

Menolak Pemimpin Baik

Sebagai bangsa yang baik, agak sulit bagi kita untuk menemukan faktanya. Mencari pejabat yang jujur dan bertanggung jawab saja, betapa sulitnya. Saat-saat menghadapi ujian nasional tahun ini, masyarakat disuguhi kenyataan memalukan: ujian nasional diawasi aparat kepolisian, dan soal ujian sebelum dibagikan pada hari-H disimpan untuk diamankan di lemari polisi. Kejujuran telah menjadi barang mewah dan langka di negeri ini. Belum lagi, kasus pencucian uang haram, yang merebak dan seakan menjadi zona aman bagi penjahat, termasuk pedagang narkoba.

Dalam kasus IPDN, orang baik-baik seperti Inu Kencana misalnya, dibenci oleh almamaternya sendiri. Sementara para pembunuh, pejabat jahat, diberi naik pangkat. Untuk itu marilah kita lihat respon masyarakat kita terhadap kepemimpinan yang baik sepanjang Indonesia menjadi negeri merdeka. Dengan fakta-fakta sejarah ini, semoga negara dan bangsa ini tahu diri dan bercermin pada masa lalunya. Fakta-fakta sejarah justru bericara kepada kita bahwa masyarakat Indonesia sejak awal kemerdekaan hingga hari ini menolak dipimpin orang-orang yang baik.

Dalam sejarah Indonesia merdeka, sebenarnya tidak sepi sama sekali dari pemimpin yang baik, memperhatikan kepentingan rakyat, dan membangun negara yang berdaulat penuh.

1.Mr. Assaat (18 September 1904 – 16 Juni 1976) adalah tokoh pejuang Indonesia, pemangku jabatan Presiden Republik Indonesia pada masa pemerintahan RI di Yogyakarta yang merupakan bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS). Selama dua tahun kekuasaannya, Mr. Assaat membuat program pemerintahan yang relevan saat itu, dan mencerminkan pembelaan kepada rakyat kecil yang baru saja lepas dari penjajah Belanda. Di antara program pemerintahannya adalah: Bisnis asing (Cina) tidak boleh masuk di Kabupaten ke bawah, kecuali hanya boleh di tingkat propinsi saja. Hal ini berkaitan dengan jaringan bisnis Cina yang menjadi tulang punggung PKI kala itu. Namun, kebijakan Assaat ini dijegal di Parlemen, sehingga masa pemerintahannya tidak bisa bertahan dan kemudian dijatuhkan.

2.Mohammad Natsir (Minangkabau, Sumatera Barat, 17 Juli 1908 – Jakarta, 6 Februari 1993) adalah pemimpin Masyumi dan salah seorang tokoh politik dan tokoh Islam di Indonesia. Pada 5 September 1950 hingga 26 April 1951 Natsir dipilih menjadi Perdana Menteri RI. Hanya dalam waktu tidak lebih 8 bulan saja bertugas memimpin negara, Natsir berhasil menyatukan Indonesia yang saat itu terbagi dalam negara-negara bagian, sehingga dia ditunjuk menjadi Perdana Menteri, kemudian mengambil langkah penyelesaian damai dengan para pejuang Aceh di bawah kepemimpinan Daud Beureueh. Tetapi langkah ini ‘ditorpedo’ oleh Soekarno (PNI dan PKI) dan menimbulkan konflik berkepanjangan di Aceh yang membuat rakyat Aceh terlambat menikmati masa-masa kemerdekaan.

3.Kabinet Burhanuddin Harahap, bertugas pada periode 12 Agustus 1955 – 24 Maret 1956. Kabinet ini demosioner pada 1 Maret 1956 seiring dengan diumumkannya hasil pemilihan umum pertama Indonesia. Tidak sampai dua tahun menjadi PM atas rekomendasi wakil presiden Moh. Hatta, dia berhasil menciptakan reputasi spektakuler dalam menyelesaikan problem bangsa. Program pemerintahannya: satu, menurunkan harga kebutuhan pokok; dua, melunasi hutang luar negeri; dan tiga, mengadakan pemilu pertama yang demokratis. Sayangnya setelah pemilu yang paling jurdil terselenggara justru Sekarno (PNI dan PKI) memprovokasi rakyat untuk menggembosi partai Masyumi, sehingga PNI dan PKI memperoleh suara lebih banyak dari Masyumi dan NU. Akhirnya mandat Burhanuddin sebagai PM tidak dapat dipertahankan. Ia digantikan, justru dari PKI, yang terkenal dengan ‘Perdana Menteri Asu’ (Ali Surahman). Indonesia kian terpuruk, secara ekonomi dan politik. Konflik daerah kian berkecamuk.

4.Kabinet Djuanda, disebut juga Kabinet Karya, memerintah pada periode 9 April 1957 – 10 Juli 1959. PM Djuanda yang dalam programnya menanggulangi pemberontakan daerah dan membenahi penyalahgunaan birokrasi oleh PNI dan PKI, tetapi gagal karena dihadang oleh PNI dan PKI dengan dukungan Soekarno.

5.Di masa reformasi, sebenarnya kita optimis akan dipimpin orang baik. Baharuddin Jusuf Habibie adalah Presiden Republik Indonesia yang ketiga. Ia menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998. Namun jabatannya tidak bertahan lama, digantikan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terpilih pada 20 Oktober 1999 oleh suara MPR dari hasil Pemilu 1999. Dengan 373 suara MPR, Gus Dur mengalahkan calon presiden Megawati Soekarnoputri yang memperoleh 313 suara.

Di antara keberhasilan Habibie yang menjabat presiden hanya setahun lebih tiga bulan, berhasil membuka kran hak rakyat dalam penyelenggaraan pemerintahan dan kekuasaan politik, membebaskan tahanan-tahanan politik, mengendalikan moneter sehingga rupiah menguat dan menciptakan jaring pengaman sosial (JPS) serta menyelenggarakan pemilu ke-2 yang paling demokratis. Tetapi Habibie dijegal oleh PDIP dan kaum oportunis politik yang merasa mampu memimpin negara, tetapi realitanya hanya menciptakan kemiskinan dan kekacauan di tengah rakyat, akhirnya Habibie harus turun tahta walaupun dengan hati yang berat.

Di negeri ini terbukti kepemimpinan orang baik tidak pernah bertahan lama. Sekalipun nama-nama pemimpin yang kita sebutkan di atas bukanlah pemimpin ideal yang dikehendaki Islam, tetapi mereka muncul di tengah kegalauan politik yang menyengsarakan rakyat. Mereka orang-orang terbaik di antara yang paling jelek.

Sementara itu, orang-orang jahat, koruptor, bertahan hingga puluhan tahun. Soekarno berkuasa lebih dari 22 tahun, dan Soeharto yang korup berkuasa selama 32 tahun. Kenyataan demikian bisa disaksikan dalam pemilihan Pilkada yang sekarang berlangsung di berbagai daerah dan provinsi. Mulai dari Cawagub-cawagub, bupati dan calon bupati hingga terpilih, yang muncul hampir semuanya tidak terbebas dari pekat. Ada yang kedapatan mengisap sabu-sabu, berjudi, bahkan sedang berbuat mesum.

Dalam praktik demokrasi, pemimpin terpilih menunjukkan kondisi dan kualitas rakyat pemilih. Maka, benarlah sabda Rasululah saw dalam sebuah hadits riwayat Al-Baihaqi dari Ibnu Shihab: “Sebagaimana keberadaan kamu, maka begitulah munculnya pemimpin-pemimpin di tengah-tengah kamu.”

Kepemimpinan Syar’i

Proses memperbaiki masyarakat, sekaligus dalam memperbaiki kepemimpinan dalam masyarakat diajarkan dalam Al-Qur’an. Mengangkat para Rasul atau nabi untuk menjadi pemimpin di tengah masyarakat, sebagaimana Allah swt sebutkan dalam QS As Sajdah ayat 24 yang artinya: “Dan Kami angkat di antara mereka pemimpin-pemimpin yang memberikan petunjuk dengan Syari’at Kami ketika mereka menerimanya dengan kesabaran dan mereka beriman kepada ayat-ayat Kami.”

Petunjuk Al-Qur’an di atas menjelaskan proses munculnya pemimpin yang baik di tengah masyarakat. Yaitu, bilamana masyarakat beriman kepada ayat-ayat Allah, kemudian bersabar serta konsisten menjalankan syari’at-Nya sebagai pedoman hidup, walaupun menghadapi tantangan hidup yang berat. Sebaliknya, bila masyarakat condong pada perbuatan maksiat, melecehkan agama Allah, mengumbar kebringasan hawa nafsu, dan menjadikan kaum perempuan sebagai komoditas seni, budaya, dan politik untuk memperdayakan masyarakat, maka tentulah memberi peluang besar munculnya para pemimpin yang bermoral rusak, berpikrian materialistis, bermental hedonis, dan berprilaku feodalis kolonialis.

Berkuasanya pemimpin demikian, pasti mengundang bencana bagi masyarakat di belahan bumi mana pun mereka berada. “Ketika para pemimpin kamu adalah orang-orang baik di antara kamu, dan orang kaya kamu adalah orang-orang dermawan di antara kamu dan urusan kamu diselesaikan secara musyawarah, maka berada di muka bumi lebih baik bagi kamu daripada di liang kubur. Tetapi bila pemimpin-pemimpin kamu orang yang jahat di antara kamu dan orang-orang kaya kamu adalah orang-orang yang bersifat kikir di kalangan kamu dan persoalan kamu tergantung penyelesaiannya kepada kaum perempuan kamu. Maka liang kubur lebih baik bagi kamu daripada tinggal di permukaan bumi.” (HR Turmudzi).

Hadits di atas menggambarkan, bahwa munculnya pemimpin jahat akibat adanya kerusakan di tengah masyarakat, terutama disebabkan kerusakan yang terjadi sebelumnya. Fakta semacam ini ratusan kali terjadi di belahan dunia sejak ribuan tahun yang lalu sebagaimana dapat kita baca dalam sejarah.

Dalam urusan pemimpin, Islam tidak main-main. Seorang dapat dipilih sebagai pemimpin negara, setidaknya memiliki syarat-syarat sebagai berikut:

1.Orang yang paling mengerti Al-Qur’an dan Sunnah.
2.Paling baik akhlaknya di antara umat.
3.Mengerti kepentingan umat dan mampu menyelesaikannya.
4.Sabar menghadapi segala macam problema umat dan paling bijaksana untuk menetapkan kebijakan.
5.Mengerti karakter musuh-musuh umat sehingga dapat mempertahankan keutuhan umat.
6.Sederhana di dalam kehidupannya, sehingga tidak membebani rakyat dengan berbagai belanja negara yang bersifat pemborosan dan mewah.

Sumber: muslimdaily.net

9 Jul 2013

Keutamaan Setiap Malam Suci Ramadhan

“Saumu” ( Puasa) menurut bahasa Arab adalah menahan dari segala sesuatu, seperti menahan makan, minum, nafsu, dan menahan ucapan yang tidak bermanfaat dan berguna. 

Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang kelima.  Hukumnya fardu ‘ain atas tiap-tiap mukallaf (baliq dan berakal). 


Syarat wajib puasa;  berakal dan baliq yakni sudah berumur 15 tahun keatas,  dan kuat berpuasa.


Puasa tidak wajib bagi orang gila sampai ia sembuh, anak-anak yang belum baliq, orang yang sedang tidur sampai ia terbangun. Hal ini sesuai dengan Sabda Rasulullah SWA, yang artinya;


“Tiga orag terlepas dari hukum;  orang yang sedang tidur hingga ia terbangun, orang gila sampai ia sembuh, anak-anak sampai ia baliq.” (Riwayat Abu Dawud dan Nasai)


Syarat sah puasa; Islam, Mumayiz (dapat membedakan yang baik dengan yang tidak baik), suci dari darah haid (kotoran) dan nifas (darah sehabis melahirkan), berpuasa pada waktu yang dibolehkan dan dilarang berpuasa pada dua hari raya dan hari Tasyriq (tanggal 11-12-13 bulan Haji).


Fardu (rukun) puasa; niat pada malam hari (pada tiap-tiap malam) sebelum terbit terbit fajar.  Kemudian menahan diri dari segala yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.


Yang membatalkan puasa; Makan dan minum, muntah yang disegaja, bersetubuh (di siang hari bulan Ramadhan), keluar darah haid (kotoran) atau nifas (darah sehabis melahirkan), gila, dan keluar mani dengan segaja (baik bersetubuh dengan perempuan sah atau lainnya).


Berikut keutamaan tiap-tiap malam pada bulan suci Ramadhan 


Malam pertama;  Orang mukmin keluar dari dosanya, seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya.


Malam kedua;  tiap-tiap umat Muhammad akan diampuni dosanya, dan juga kedua orang tuanya, jika keduanya mukmin.


Malam ketiga, seorang malaikat berseru dibawah ‘Arsy: “mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang telah lewat”.


Malam keempat;  dia memperoleh pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqan (Al-Quran).


Malam kelima; Allah Ta’ala memeberikan pahala seperti pahala orang yang shalat di Masjidil Haram, masjid Madinah dan Masjidil Aqsha.


Malam keenam; Allah Ta’ala memberikan pahala orang yang berthawaf di Baitul Makmur dan dimohonkan ampun oleh setiap batu dan cadas.


Malam ketujuh; seolah-olah ia mencapai derajat Nabi Musa a.s. dan kemenangannya atas Fir’aun dan Hamun (Haman)


Malam kedelapan; Allah Ta’ala memberinya apa yang pernah Allah berikan kepada Nabi Ibrahin a.s.


 Malam kesembilan;  seolah-olah ia beribadat kepada Allag Ta’ala sebagaimana ibadatnya Nabi SAW.


Malam kesepuluh;  Allah Ta’ala mengaruniai dia kebaikan dunia dan akhirat.


Malam kesebelas;  ia keluar dari dunia seperti saat ia dilahirkan dari perut ibunya.


Malam keduabelas;  ia datang pada hari kiamat dengan wajahnya bagaikan bulan di malam purnama.


Malam ketigabelas;  ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari segala keburukan.


Malam keempat belas;  para malaikat datang seraya memberi kesaksian untuknya, bahwa ia telah melakukan shalat tarawih, maka Allah tidak menghisabnya pada hari kiamat.


Malam kelima belas;  ia didoakan oleh para malaikat dan para penanggung (pemikul) Arsy dan Kursi.


Malam keenam belas;  Allah menerapkan baginya kebebasan untuk selamat dari neraka dan kebebasan masuk ke dalam surga.


Malam ketujuh belas;  ia diberi pahala seperti pahala para nabi.


Malam kedelapan belas; seorang malaikat berseru, “Hai hamba Allah, sesungguhnya Allah ridha kepadamu dan kepada ibu bapakmu.”


Malam kesembilan belas;  Allah mengangkat derajat-derajatnya dalam surga Firdaus.


Malam kedua puluh;  Allah memberi pahala para Syuhada (orang-orang yang mati syahid) dan shalihin (orang-orang yang saleh).


Malam kedua puluh satu; Allah membangun untuknya sebuah gedung dari cahaya.


Malam kedua puluh dua;  ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari setiap kesedihan dan kesusahan.


Malam kedua puluh tiga; Allah membangun untuknya sebuah kota di dalam surga.


Malam kedua puluh empat;  ia memperoleh duapuluh empat doa yang dikabulkan.


Malam kedua puluh lima;  Allah Ta’ala menghapuskan darinya azab kubur.


Malam keduapuluh enam; Allah mengangkat pahalanya selama empat puluh tahun.


Malam keduapuluh tujuh;  ia dapat melewati shirath pada hari kiamat, bagaikan kilat yang menyambar.


Malam keduapuluh delapan;  Allah mengangkat baginya seribu derajat dalam surga.


Malam kedua puluh Sembilan;  Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.


Dan pada malam yang terakhir, Allah berfirman; ”Hai hamba-Ku, makanlah buah-buahan surga, mandilah dari iar Salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar. Akulah Tuhanmu, dan engkau hamba-Ku” (HR Majalis).

29 Jun 2013

Jagalah Silaturrahim (bagian pertama)

Silaturrahmi merupakan salah satu ajaran dalam Islam yang sangat dianjurkan. Kenapa?  Allah dalam al-Qur`an secara spesifik memerintahkan umat Islam untuk menjalin silaturrahmi atau silaturrahim;

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisa : 1)
Sesungguhnya orang-orang yang selalu menjaga tali silaturrahmi akan diberkahi oleh Allah dalam usahanya, rizki dan umurnya. Dari Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda; “Barangsiapa yang senang diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya (diberkahi), maka hendaklah ia bersilaturrahmi .” (Muttafaq ‘Alaih)

Silaturrahmi atau Silaturrahim secara bahasa adalah menjalin hubungan kasih sayang dengan saudara dan kerabat yang masih ada hubungan darah (senasab). Seseorang tidak dapat dikatakan menjalin hubungan silaturrahmi bila ia berkasih sayang dengan orang lain, sementara dengan saudara dan kerabatnya dia jadikan musuh, apalagi ada yang sampai pada level “musuh berbuyutan” sampai ke anak cucu. Masya Allah.

Dalam menjalin silaturrahmi atau silaturrahim, Islam dalam hal ini mengajarkan kepada kita tentang skala prioritas, yaitu dahulukanlah keluarga dan kaum kerabatmu baru kemudian orang lain. Hubungan baik dengan orang lain jangan sampai merusak hubungan kekeluargaan. Hubungan kasih sayang dengan istri jangan sampai merusak hubungan kita dengan orang tua dan saudara.

Dalam beberapa referensi Islam, kata Silahturahim atau silaturrahmi berasal dari dua kata yakni; Shilah artinya hubungan atau menghubungkan. Sedangkan Ar-Rahm berasal dari Rahima-Yarhamu-Rahmun/ Rahmatan yang berarti lembut dan kasih sayang. 

Selain itu kata ar-Rahm atau ar-Rahim juga mempunyai arti peranakan (rahim) atau kekerabatan yang masih ada pertalian darah (persaudaraan). Inilah keunikan Bahasa Arab, Satu kata saja sudah dapat menjelaskan definisinya sendiri tanpa bantuan kata-kata lain.

Peliharalah Tali Silaturrahmi, maksudnya peliharalah hubungan kekeluargaan kamu. Jangan sampai kamu lupa dengan nasab kamu, orang tua kamu, saudara-saudara kamu dan kerabat-kerabat kamu. Setelah itu baru peliharalah hubungan kasih sayang dengan orang-orang mu`min sebagaimana dengan saudara sendiri.

Sementara Taraahamal-Qaumu artinya kaum itu saling berkasih sayang. Taraahama ‘Alayhi berarti mendo’akan seseorang agar mendapat rahmat. Sehingga dengan pengertian ini seseorang dikatakan telah menjalin silaturrahmi apabila ia telah menjalin hubungan kasih sayang dalam kebaikan bukan dalam dosa dan kema’siatan.

Anjuran menjalin silaturrahmi adalah anjuran untuk tidak melupakan nasab dan hubungan kekerabatan. Satu-satunya bangsa yang paling hebat dalam menjalankan silaturrahmi adalah bangsa Arab. Mengapa? Karena mereka tidak lupa nenek moyang mereka. Makanya mereka selalu mengaitkan nama mereka dengan bapak, dan kakek-kakek mereka ke atas. Oleh karena itu dalam nama mereka orang arab pasti ada istilah bin atau Ibnu yang artinya anak.

Nabi kita Muhammad Saw, beliau mengetahui nasabnya sampai beberapa generasi sebelumnya. Nasab beliau adalah Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul-Muthalib bin Hasyim bin Abdul- Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

Bukan hanya Nabi yang seperti itu, hampir seluruh orang-orang Arab mengetahui nasabnya masing-masing sampai beberapa generasi sebelumnya.  Hubungan kekeluargaan dan persaudaraan diantara mereka sangat kuat. Allah menjadikan mereka sebagai contoh untuk diteladani atau suri tauladan.

Lalu bagaimana dengan bangsa kita yang kebanyakan mengetahui hanya sampai kakek dan buyut bahkan ada yang tidak tau sama sekali. Akibat pengetahuan nasab yang terbatas ini maka efeknya sangat memprihatinkan dan salah siapa…? Bersambung……

31 Mei 2013

Pidato Kenegaraan Abu Bakar ash-Shiddiq

Pesta demokrasi untuk memilih wakil rakyat usai sudah. Semua media nasional dipenuhi dengan berita tentang hasil quick count dari lembaga survey dan real countdari KPU. Ada yang senang dengan hasil yang diperoleh, tetapi tidak sedikit yang kecewa. Semoga bagi para Caleg yang telah mengumbar janji manis saat kampanye, dan sekarang terpilih, mudah-mudahan tidak melupakan janji-janjinya.
Berbicara masalah kepemimpinan, ada pelajaran menarik dari seorang sahabat yang telah mendapat jaminan surga, dan merupakan sahabat kebanggaan  Rasulallah Muhammad SAW,  beliau adalah sahabat Abu Bakar ash-Shidiq. Ketika beliau dilantik menjadi pemimpin, beliau berpidato di depan rakyatnya.
” Saudara-saudara, aku dipilih menjadi pemimpin bukan karena aku terbaik diantara kalian. Bantulah aku jika aku berbuat baik dan luruskan aku jika berbuat salah. Sifat jujur adalah amanah dan kebohongan adalah khianat. ‘Orang lemah’ diantara kalian aku pandang kuat posisinya disisiku dan aku akan melindungi hak-haknya. ‘Orang kuat’ diantara kalian aku pandang lemah posisinya disisiku. Aku akan mengambil hak-hak yang mereka peroleh dengan jalan zalim untuk kemudian dikembalikan kepada yang berhak. Janganlah meningalkan jihad, sebab Allah akan menimpakan kehinaan kepada kaum yang meinggalkan jihad. Patuhlah kepadaku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Dan janganlah mematuhiku jika aku durhaka kepada Allha dan Rasul-Nya. Kini marilah mendirikan Shalat. Semoga Allah SWT melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita semua”.
Kalimat diatas adalah pidato kenegaraan pertama Abu Bakar saat di bai’at menjadi pemimpin. Ada beberapa poin penting dari isi pidato tersebut yang dapat kita ambil pelajaran berkenaan dengan sifat seorang pemimpin.

Pertama, sifat rendah hati. Abu bakar mengakui dirinya bukanlah orang yang terbaik. Karena itulah ia bisa menerima kritikan. Pengakuan akan kelemahan diri merupakan syarat untuk menerima kritik.
Kedua, jujur memegang amanah. Kejujuran pemimpin akan menarik simpati rakyat. Sementara konsisten memegang amanah merupakan kunci kemajuan dan kemakmuran sebuah negeri.

Ketiga, berlaku adil. Islam meletakan soal penegakan keadilan sebagai sikap yang esensial. Bahkan dinyatakan dalam sebuah ayat, bahwa berlaku adil lebih dekat dengan taqwa. Allah berfirman, “…Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat dengan takwa,” (QS Al-Maidah 5:8)
Keempat, tidak pupus untuk terus jihad (berjuang). Tentu makna jihad yang kontekstual saat ini adalah tidak kenal lelah dalam mengentaskan kemiskinan dan kebodohan. Pendek kata, tidak ada kamus putus asa bagi pemimpin untuk memperjuangkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Islam pun melarang umatnya untuk berputus asa atas rahmat Allah swt (QS Yusuf 12:87).
Semoga para pemimpin kita yang saat ini telah terpilih menjadi anggota legislatif  maupun nanti yang akan mencalonkan presiden dan wakil presiden, memiliki keempat sifat tadi sehingga negeri ini bisa menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Wallahu a’lam bis shawab.

Sumber: salamsuper.co 

25 Mei 2013

Hukum Rajam Bagi Para Pezina

Perbuatan zina yang berhak mendapat hukuman adalah tatkala diketahui benar bahwa pelakunya telah membenamkan ujung dzakar (kepala dzakar)-nya dalam kemaluan perempuan yang haram baginya yang disukai oleh tabiat manusia tanpa ada kesamaran (kerancuan) nikah dan meskipun air spermanya tidak keluar. Maka tidak tergolong di dalamnya orang yang memasukkan kepala dzakarnya ke dalam kemaluan hewan dan jima’ dalam pernikahan yang rancu (misal seorang laki-laki menyetubuhi wanita yang dikira isterinya padahal bukan). Jika seseorang menikmati wanita pada selain kemaluannya, maka dia tidak berhak mendapatkan hukuman yang telah ditetapkan untuk pelaku zina meskipun juga berhak mendapat hukuman yang lain.


Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata:
“Seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dia berkata: Sesungguhnya saya telah menikmati perempuan dari daerah Madinah yang paling jauh dan saya telah bersenang-senang dengannya tanpa menyetubuhinya. Saya telah hadir di hadapan engkau untuk mengikuti keputusanmu. Maka segerakanlah hukuman atas saya menurut keinginan engkau. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Allah menutupi kesalahanmu jika engkau menutupi kesalahanmu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menanggapinya sedikitpun, sehingga orang itu pergi, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh seseorang mengikutinya, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya dan membacakan (ayat) kepadanya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam membaca:
“Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan dari malam, sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)
Seseorang dari kaum berkata kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah ini khusus baginya atau untuk semua orang? Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Untuk semua orang…” (Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Hukuman Bagi Pelaku Zina yang Belum Pernah Menikah
Para ahli fiqih telah sepakat bahwa orang merdeka yang belum menikah jika melakukan zina maka dicambuk 100 kali baik laki-laki maupun perempuan,karena Azza wa Jalla berfirman:
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nur: 2)
Imam Syafi’i dan Ahmad berpendapat bahwa pelaku zina ini diberi hukuman cambuk dan diasingkan selama 1 tahun sebagaimana pendapat yang benar dari para ulama. Demikian itu karena ada hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan hukuman untuk orang yang berzina dan belum menikah dengan diasingkan selama satu tahun dan ditegakkan hukuman (cambuk) atasnya.
Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Ambillah oleh kalian hukuman (bagi pezina) dari saya, ambillah oleh kalian (hukuman bagi pezina) dari saya … sesungguhnya Allah telah menjadikan hukuman yang jelas untuk mereka (para pezina) : laki-laki yang belum menikah (berzina) dengan gadis dicambuk 100 kali dan diasingkan selama 1 tahun sedangkan laki-laki dan perempuan yang sudah menikah dicambuk 100 kali dan dirajam.”
Beliau mengasingkan orang berzina yang belum menikah, demikian pula khalifah ar-rasyidin. Adapun jika yang diasingkan adalah wanita, maka tidaklah dia diasingkan kecuali bersama mahram atau suaminya karena wanita adalah aurat.

Hukuman Bagi Pelaku Zina yang Telah Menikah
Para ahli fiqih telah sepakat atas hukuman rajam sampai mati bagi (pelaku zina yang) muhshin (berakal, baligh dan merdeka yang telah menikah dengan pernikahan yang benar dan telah menyetubuhi istrinya meskipun air maninya tidak keluar) demikian pula seorang janda atau duda berdasarkan hadits yang telah lalu dan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
“Seseorang didatangkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berada di masjid maka dia memanggil beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya saya telah berzina.” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berpaling darinya sehingga orang itu mendatangi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam hingga 4 kali. Maka tatkala dia telah mempersaksikan dirinya sebanyak 4 kali Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya dan bertanya, “Apakah kamu punya penyakit gila?” dia menjawab, “Tidak.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi, “Apakah kamu telah menikah?” diam menjawab, “Iya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Bawalah dia pergi dan rajamlah.” (Disepakati oleh Bukhari dan Muslim)
Asy-Syaukani menyebutkan bahwa hukuman rajam telah disepakati. Hukuman itu ditetapkan berdasarkan sunnah mutawatir dan dalil Al-Qur’an, karena hadits Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia berkata,
“Di antara ayat yang diturunkan atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ayat rajam, kami telah membaca dan memperhatikannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melakukan hukuman rajam dan kamipun melakukannya sepeninggal beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Diriwayatkan oleh Jamaah)
Ayat yang disebutkan Umar radhiyallahu ‘anhu adalah:
“Laki-laki dan wanita yang tua (yang telah menikah) jika keduanya berzina, maka rajamlah keduanya disebabkan kelezatan yang telah mereka berdua rasakan.”
Ini merupakan bagian dari sejumlah ayat Al-Qur’an yang telah dimansukh (dihapus) bacaannya tetapi tidak hukumnya.
Para ulama berselisih tentang menggabungkan hukuman cambuk dan rajam. Mayoritas ulama berpendapat bahwa pelaku zina yang telah menikah cukup dirajam karena demikianlah yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap Maiz, Al-Ghamidiyah dan orang Yahudi yang telah berzina, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Unais radhiyallahu ‘anhu,
“Jika dia (wanita yang telah menikah) itu mengaku bahwa dirinya telah berzina, maka rajamlah dia.”
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Umar radhiyallahu ‘anhu telah merajam pelaku zina saat keduanya menjabat kekhilafahan dan tidak menggabungkan antara hukuman cambuk dan rajam.

Menetapkan Hukuman dan Syarat-syaratnya
Hukuman tidak dilaksanakan disebabkan perkara yang masih samar, maka tidaklah hukuman itu ditegakkan kecuali setelah diyakini bahwa kejahatan itu telah dilakukan. Penetapan zina harus dari 4 orang saksi yang adil dari kalangan laki-laki. Maka persaksian wanita dan orang yang fasik tidak diterima. Semua saksi telah melihat laki-laki tersebut menyetubuhi wanita yang diharamkan atasnya, sebagaimana laki-laki itu menyetubuhi istrinya yang halal baginya, seperti masuknya alat pencelak mata ke dalam botol tempat celak dan seperti tali timba masuk ke sumur. Juga disyaratkan dalam menegakkan hukuman zina yaitu pelakunya berakal, baligh, tahu tentang haramnya perbuatan zina dan dia melakukannya dengan sukarela, maksudnya dia melakukan zina dengan sempurna perbuatannya tanpa ada paksaan sebagaimana telah ditunjukkan oleh banyak dalil.
Seorang muslim disyariatkan menutupi aib yang dilakukannya dan bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla karena hadits,
“Barangsiapa yang melakukan perbuatan yang keji ini, maka hendaklah dia menutupi aibnya dengan tutup Allah Azza wa Jalla. Barangsiapa yang menanyakan lembaran perkaranya itu kepada kita, maka kita tegakkan hukuman dalam Kitab Allah atasnya.” (Diriwayatkan oleh Malik dalam Muwatha)
Demikian juga, orang lain disyariatkan menutupi perbuatan pelaku zina selama orang yang zina itu tidak membiasakan perbuatannya, tidak mengungkapkannya serta tidak melakukannya dengan terus terang. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Wahai Hazal, kalau kamu menutupinya dengan selendangmu, maka itu lebih baik bagimu.”
Hazal adalah orang yang berzina dengan Maiz Al-Aslami dan dia menyebutkan perbuatannya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam supaya dirinya diberi hukuman.
Wallahu a’lam bish-shawab.

29 Apr 2013

Tgk Ibrahim Beurdan (Abu Panton) Jalan Menuju Zuhud

Oleh : Sulaiman Hasyim/ Guru MAN Samudera Kab.Aceh Utara

Menurut Tgk Ibrahim Beurdan (Abu Panton) salah seorang ulama kharismatik Aceh menjelaskan, seseorang akan kehilangan agamanya disebabkan oleh empat factor antara lain, tidak mengamalkan apa yang diketahui , mengamalkan apa yang tidak diketahuinya,  tidak mencari tau apa yang tidak diketahui, dan menolak sesorang yang hendak mengajari sesuatu yang tidak diketahui.

Hal ini dikarenakan manusia tidak bisa  bersandar kepada diri sendiri atau pun kepada mahluk lainya, untuk mendorong hal itu manusia harus mengetahui jalan syariat serta berpegang teguh padanya, jalan syariat yang kami maksudkan disini adalah jalan yang dituntun sumbernya dari wahyu Ilahi dan sunnah Rasul. Demikian diungkapkan Abu Panton dalam suatu pengajian di Dayah Malikussaleh belum lama ini.

Jalan ibadah seperti  itu bebas  ditempuh oleh siapapun dia bila memang dan sungguh-sungguh bercita-cita ingin dekat dengan Allah dan apa saja bentuk amalan yang dipersembahkan senantiasa merasa diyakini diawasi Allah SWT.

Oleh karena itu, hendaknya manusia taat pada segala perintah Allah dan rela pada segala ketentuan sang pencipta yaitu Allah SWT. Melalui jalan dasar utama yaitu melewati  pintu syariat. Untuk mencapai ma’rifat Allah maka seseorang harus menempuh jalan syariat berupa melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Untuk mencapai ma’rifat Allah  setidaknya harus diawali  berbagai tahapan . Tahapan yang paling mendasar dan  mengesankan  tentu melalui jalan musyahadah. Kendatipun diketahui setiap muslim sering melakukan musyahadah dengan Allah SWT sebagai peran  mengharapkan keridhaan dan dicintai Allah.

Namun tidak semua harapan itu  khususnya bagi kaum awam mencapai tingkat mahabbah  sejati sebagai mana  yang dipraktikkan dan diraih  oleh  para  kaum sufi selama ini dan sepanjang zaman.

Tidak Mencintai Dunia

Semua manusia di dunia ini berfokus mencari kebahagiaan , ada kebahagiaan sesaat dan kebahagiaan hakiki. Kebahagiaan hakiki tentunya tempatnya diranah akhirat sedangkan kebahagiaan sesaat kita temui di alam baharu ini.

Jiwa dan raga kaum arifin,  yang sifatnya selama ini sering dijelaskkan ditempat-tempat pengajian dan dayah-dayah senantiasa dalam kondisi ibadah dan diam secara total  mereka dari fase ke fase disibukkan menyebutkan asma Allah. Mereka tidak bicara kecuali dititahkan untuk bicara. Mereka juga tidak mengambil jika diberi, tidak pula mereka bergembira jika tidak digembirakan. Hati mereka memang sudah setara  menyamai hati para Malaikat. Allah berfirman:

“Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (Q.S,66.6)

Derajat lain, menurut Abu Panton mereka telah menyamai  derajat malaikan  bahkan berpotensi setingkat lebih tinggi dari itu, hati mereka terjaga dari segala petaka, karena petaka hanya sampai kepada anggota badan serta tidak pernah sekalipun  mencapai kedasar hati mereka.

Jalan menuju sufi bebas  dilalui oleh siapapun asalkan kita mampu dan sabar jihad dibawah panji Islam dan aqidah yang benar, seperti yang telah dirintis oleh banyak para sufi atau kekasih Allah. Jika kita  merasa cukup dan kedekatanya sudah benar-benar shalih, maka Allah akan membuka untuk hamba ( yang mengikuti jalan ini) pintu-pintu bagiNya(qadha dan qadar), juga pintu kelembutan, rahmat, dan anugerahNya. Dia genggam dunia untuk mu, lalu membentangkan seluas-luasnya.

Semua fasilitas dan anugerah  ini hanya ditemui dan diberikanya pada manusia-manusia pilihan seperti para wali-wali dan shadiqin karena hanya Allah yang maha mengetahui nilai-nilai dasar ketakwaan yang dimiliki oleh setiap individu manusia.

Nabi Muhammad SAW, termasuk orang yang ditawari dunia , namun tidak sibuk mengurusinya dan lupa melayaninya. Rasul tidak melirik pada bagian-bagian rezekinya dengan segala kesempurnaan zuhud dan penetapan. Beliau pernah ditawari kunci-kunci kekayaan bumi, namun justeru mengembalikanya seraya berkata:

“Tuhan hidupkanlah aku sebagai orang miskin dan matikan aku sebagai orang miskin serta kumpulkan aku kelak bersama orang-orang miskin.” 

26 Apr 2013

Jangan Galau, Allah Bersama Kita! Inilah 4 Ayat Anti Galau!

Zaman sekarang berbagai masalah makin kompleks. Entah itu komplikasi dari masalah keluarga yang tak kunjung selesai, masalah hutang yang belum terbayar, bingung karena ditinggal pergi oleh sang kekasih, ataupun masalah-masalah lain. Semuanya bisa membuat jiwa seseorang jadi kosong, lemah atau merana.

"Galau!!" merupakan sebuah kata-kata yang sedang naik daun, di mana kata-kata itu menandakan seseorang tengah dilanda rasa kegelisahan, kecemasan, serta kesedihan pada jiwanya. Tak hanya laku di facebook atau twitter saja, bahkan di media televisi pun orang-orang seakan-akan dicekoki dengan kata-kata "galau" tersebut.

Pada dasarnya, manusia adalah sesosok makhluk yang paling sering dilanda kecemasan. Ketika seseorang dihadapkan pada suatu masalah, sedangkan dirinya belum atau tidak siap dalam menghadapinya, tentu jiwa dan pikirannya akan menjadi guncang dan perkara tersebut sudahlah menjadi fitrah bagi setiap insan.

...Jangankan kita manusia biasa, bahkan Rasulullah pun pernah mengalami keadaan keadaan galau pada tahun ke-10 masa kenabiannya...

Jangankan kita sebagai manusia biasa, bahkan Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam pun pernah mengalami keadaan tersebut pada tahun ke-10 masa kenabiannya. Pada masa yang masyhur dengan ‘amul huzni (tahun duka cita) itu, beliau ditinggal wafat oleh pamannya, Abu Thalib, kemudian dua bulan disusul dengan wafatnya istri yang sangat beliau sayangi, Khadijah bintu Khuwailid.

Sahabat Abu Bakar, ketika sedang perjalanan hijrah bersama Rasulullah pun di saat berada di dalam gua Tsur merasa sangat cemas dan khawatir dari kejaran kaum Musyrikin dalam perburuan mereka terhadap Rasulullah. Hingga turunlah surat At-Taubah ayat 40 yang menjadi penenang mereka berdua dari rasa kegalauan dan kesedihan yang berada pada jiwa dan pikiran mereka.

Jangan Galau, Innallaha Ma’ana!
Allah Ta’ala berfirman, "Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kami" (QS. At Taubah: 40)

Ayat di atas mungkin dapat menjadikan kita agar lebih merenungi lagi terhadap setiap masalah apapun yang kita hadapi. Dalam setiap persoalan yang tak kunjung terselesaikan, maka hadapkanlah semua itu kepada Allah Ta’ala. Tak ada satupun manusia yang tak luput dari rasa sedih, tinggal bagaimana kita menghadapi kesedihan dan kegalauan tersebut.

...Allah telah memberikan solusi kepada manusia untuk mengatasi rasa galau yang sedang menghampiri jiwa...

Adakalanya, seseorang berada pada saat-saat yang menyenangkan, tetapi, ada pula kita akan berada pada posisi yang tidak kita harapkan. Semua itu sudah menjdai takdir yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk makhluk-makhluk Nya.

Tetapi, Allah Ta’ala juga telah memberikan solusi-solusi kepada manusia tentang bagaimana cara mengatasi rasa galau atau rasa sedih yang sedang menghampiri jiwa. Karena dengan stabilnya jiwa, tentu setiap orang akan mampu bergerak dalam perkara-perkara positif, sehingga dapat membuat langkah-langkahnya menjadi lebih bermanfaat, terutama bagi dirinya lalu untuk orang lain.

Berikut ini adalah kunci dalam mengatasi rasa galau;

1. Sabar
Hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ketika menghadapi cobaan yang tiada henti adalah dengan meneguhkan jiwa dalam bingkai kesabaran. Karena dengan kesabaran itulah seseorang akan lebih bisa menghadapi setiap masalah berat yang mendatanginya.
Allah Ta’ala berfirman, "Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar" (Qs. Al-Baqarah 153).

Selain menenangkan jiwa, sabar juga dapat menstabilkan kacaunya akal pikiran akibat beratnya beban yang dihadapi.

2. Adukanlah semua itu kepada Allah
Ketika seseorang menghadapi persoalan yang sangat berat, maka sudah pasti akan mencari sesuatu yang dapat dijadikan tempat mengadu dan mencurahkan isi hati yang telah menjadi beban baginya selama ini. Allah sudah mengingatkan hamba-Nya di dalam ayat yang dibaca setiap muslim minimal 17 kali dalam sehari:

"Hanya kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan" (QS. Al Fatihah 5).

...ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka akan meringankan beban berat yang kita derita...

Mengingat bahwa manusia adalah makhluk yang banyak sekali dalam mengeluh, tentu ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka semua itu akan meringankan beban berat yang selama ini kita derita.

Rasulullah shalallahi alaihi wasallam ketika menghadapi berbagai persoalan pun, maka hal yang akan beliau lakukan adalah mengadu ujian tersebut kepada Allah Ta’ala. Karena hanya Allah lah tempat bergantung bagi setiap makhluk.

3. Positive thinking
Positive thinking atau berpikir positif, perkara tersebut sangatlah membantu manusia dalam mengatasi rasa galau yang sedang menghinggapinya. Karena dengan berpikir positif, maka segala bentuk-bentuk kesukaran dan beban yang ada pada dalam diri menjadi terobati karena adanya sikap bahwa segala yang kesusahan-kesusahan yang dihadapi, pastilah mempunyai jalan yang lebih baik yang sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya;

"Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan" (Qs Al-Insyirah 5-6).

4. Dzikrullah (Mengingat Allah)
Orang yang senantiasa mengingat Allah Ta’ala dalam segala hal yang dikerjakan. Tentunya akan menjadikan nilai positif bagi dirinya, terutama dalam jiwanya. Karena dengan mengingat Allah segala persoalan yang dihadapi, maka jiwa akan menghadapinya lebih tenang. Sehingga rasa galau yang ada dalam diri bisa perlahan-perlahan dihilangkan. Dan sudah merupakan janji Allah Ta’ala, bagi siapa saja yang mengingatnya, maka didalam hatinya pastilah terisi dengan ketenteraman-ketenteraman yang tidak bisa didapatkan melainkan hanya dengan mengingat-Nya.

...Bersabar, berpikir positif, ingat Allah dan mengadukan semua persoalan kepada-Nya adalah solusi segala persoalan...

Sebagaimana firman-Nya:

"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram" (Qs Ar-Ra’du 28).

Berbeda dengan orang-orang yang lalai kepada Allah, yang di mana jiwa-jiwa mereka hanya terisi dengan rasa kegelisahan, galau, serta kecemasan semata. Tanpa ada sama sekali yang bisa menenangkan jiwa-Nya.

Tentunya, sesudah mengetahui tentang faktor-faktor yang dapat mengatasi persoalan galau, maka jadilah orang yang selalu dekat kepada Allah Ta’ala. Bersabar, berpikir positif, mengingat Allah, serta mengadukan semua persoalan kepada-Nya merupakan kunci dari segala persoalan yang sedang dihadapi. Maka dari itu, Janganlah galau, karena sesungguhnya Allah bersama kita.

Sumber Nasehat